""'>

Senin, 29 April 2013

Hari Pertama Kerja Sebagai Akunting

Maaf jika tulisan saya akhir-akhir ini membosankan, saya memang tidak pandai menulis, tapi saya akan coba share pengalaman saya sebagai akuntan yang benar-benar newbie mencoba menjadi master. Hari ini saya mulai masuk kerja. Saya datang 15 menit sebelum kantor buka. Kantor masih sepi sekali. Saya bertemu dengan Pak Anis, HRD yang dulu mewancarai saya di parkiran. Beliau menyuruh saya untuk langsung ke lantai 2, di mana bagian administrasi dan akunting berada.

Karena saya baru, saya disuruh ikut breifing. Waktu briefing saya memperkenalkan diri. Lalu saya menyerahkan ijazah asli ke Pak Anis, sebagai syarat kerja di situ. Langsung saja waktu itu Pak Anis mengantarkan saya ke bagian akuntansi. Saya berkenalan, ada 3 gadis, namanya Nur, Ania, dan yang masih 1 minggu Ariani. Saya berkenalan juga dengan Egi, mukanya mirip dengan teman saya Alan. Yang lainnya seperti Pak Anto, Fajar, Pak Ifan, dan tetangga dekat saya bernama Andik sedang mengurusi laporan keuangan sepertinya.

Tidak lama kemudian datang orang lagi, namanya Malik. Dia ini yang akan digantikan oleh saya. Ternyata kerjanya tidak di Harpindo Jaya melainkan di Suzuki Siliwangi, namanya Harapan Cipta kalau tidak salah. Saya tahu karena ketika sudah bertemu dengannya saya diajak di tempat kerjanya itu. Dia mengambil data lalu kembali lagi ke Hapindo Jaya bersama saya yang nebeng dengannya. Dia sepertinya sedang sibuk merekap laporan dengan Pak Ifan, Andik juga membantu sekalian dia ingin menggali potensinya lebih dalam.

Saat Pak Ifan tidak ada di situ, saya diajari oleh Malik tentang pencatatan penjualan kredit dan tunai di lembar kerja pada komputer. Lumayan mengerti, di situ juga saya mencoba tanya-tanya tentang keterangan apa itu DPP, subsidi, diskon, dan lain sebagainya. Dia hari ini masih mengajari itu dulu, karena kondisinya yang sedang sibuk dengan rekapannya, saya tidak enak untuk tanya-tanya, saya hanya melihat dan mengamati.

Waktu sudah menunjukkan jam 12, saatnya untuk istirahat, makan, dan sholat. Egi membawa bekal dari rumah, saya diantarkan ke warung dekat kantor oleh Fajar. Saya makan nasi rames, pedas sekali, tidak baik untuk tenggorokkan, untung saya minum teh panas untuk meredakannya. Kemudian dari situ saya sholat di masjid dengan Egi, Fajar, dan ada juga orang bagian sales. Saya sholat jamaah dengan orang itu.

Kembali ke kantor, Malik dan Andik tidak ada di bangku karena tadi mereka tidak istirahat, makanya ada akumulasi istirahat jadi dari yang ditetapkan jam 1 menjadi jam setengah 2 balik ke kantornya. Saya menyemangati bagian HRD yang sudah memasukkan saya ke sini. Saya tanya saja tentang apakah ada rekruitment lagi, mereka menanggapi dengan serius, tapi karena hal itu lah saya bisa bilang "Tetap Semangat Yah!".

Sambil menunggu mereka, di kantor saya ngobrol-ngobrol dengan Ania, Nur, Ariani, dan Egi di situ. Egi, tadi saya dengar ingin meminta film makanya saya ngobrol tentang film, dan saya menceritakan bahwa saya saking sukanya film pencurian saya mempunyai blog sendiri tentang pencurian yaitu Heist Movie Review. Besok saya akan membawakan film dari bakaran dvd saya agar tidak bosan di kantor.

Sebelum jam 3 atau sholat Ashar, Egi mengajak saya ke kantor pajak, untuk memberikan laporan pajak ke kantor pajak, bagian kotamadya. Egi dan saya pergi dengan motor Tiger saya. Ternyata tugas belum selesai, setelah ke kantor pajak kami ke kantor pos yang ada di dekatnya, kita ke sana dengan jalan kaki.

Saya merogoh-rogoh jaket saya ketika menunggu, dan ternyata ada koin berisi coklat. Saya makan coklat itu, sambil menuju ke parkiran. Kemduian menuju ke Bank Cimb Niaga bertemu dengan Bu Ita, menyerahkan titipan dari Pak Ifan. Setelah itu kami balik ke kantor, lalu lapor ke bapaknya, tetap dicatat sebagai biaya pengiriman surat itu, dan masuk ke biaya-biaya. Lalu saya sholat Ashar, Egy juga ikut namun saya duluan karena dia sedang mengeringkan baju. Kemudian saya kembali lagi ke kantor, ngobrol lagi, dan ternyata tim akuntansi akan lembur. Egi pulang duluan karena dia ada kuliah nanti malam. Saya juga ijin pulang namun tanpa alasan, sebenarnya saya sedang tidak fit.

Hari pertama seperti orang magang, karena Malik sedang sibuk dengan rekap dan rumus. Semoga besok dapat ilmu akuntansi yang lebih mantep lagi, amin. Karena tahu sendiri Malik itu pemegang akuntansi, biaya, dan pajaknya sendirian di Suzuki Siliwangi, saya harus benar-benar memperhatikan.

Sabtu, 27 April 2013

Happyness Start Here

Setelah sekitar 1 setengah tahun akhirnya saya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang saya tempuh. Hari ini saya mendapatkan pekerjaan sebagai staf akuntansi di perusahaan Harpindo Jaya (bergerak dalam bidang dealer resmi kendaraan terutama Yamaha). Saya senang sekali ketika mbaknya menyatakan proses rekruitmen sudah selesai, dan bilang "Selamat bergabung dengan PT.Harpindo Jaya". Speechless, kata-kata yang saya ucap dan paling saya ingat adalah "Alhamdulillah". Saya pamitan kemudian keluar dari gedung menuju parkiran motor saya, saya tetap masih tidak menyangka ini.

Sebenarnya yang lebih membuat saya nyaman di situ adalah bapak kepala akuntansi yang mau memberikan saya kesempatan untuk berkembang dan menggali potensi akuntansi saya, jadi setelah kontrak habis saya sudah siap ditempatkan di perusahaan yang lebih besar, atau katakanlah biar saya terpandang dan mempunyai value lebih dengan pengalaman akuntansi saya, amin.

Saya jadi teringat hari interview pertama, hari kamis tepatnya. Waktu saya sedang memarkirkan motor saya di depan gedung PT.Harpindo, ada yang kenal dengan saya. Saya tidak tahu, tapi dia tahu kalau saya itu adalah temannya Maul, atau Maulana, teman satu kuliahan saya dulu. Kita ngobrol, berkenalan, tukaran pin BB, ternyata namanya Herman, kemudian meneruskan duduk manis di ruangan kecil yang terbentuk dari kotak-kotak berwarna biru. Berdua menunggu dipanggilnya interview.

Beberapa menit kemudian munculah pelamar yang lain. Ada 2 orang, satunya dari UNNES, dan satunya lagi dari UNDIP. Saya belum sempat kenalan, tapi kita ngobrol asyik di situ. Sambil menunggu kita disuruh mengisi formulir yang disediakan. Formulirnya seperti biasa agak panjang, pertanyaan yang sulit adalah kelebihan dan kekurangan. Itu yang membuat saya berpikir dulu, karena jawaban yang akan saya berikan akan berpengaruh pada interview nantinya.

Lalu ada yang unik di sini, ada pertanyaan "Apa yang menjadi moto hidup anda?", atau semacam kata-kata motivasi apa gitu. Karena saya terlalu banyak atau bingung mau menjawab apa, saya jadi teringat kata-kata Rene Suhardono dan Billy Boen pada acara Young On Top di Metro TV, yaitu "Kalau kita galau berarti sebenarnya kita peduli". Ya saya tulis sama persis di situ, dengan demikian saya bisa mengisikan kolom kekurangan saya, yaitu galau ketika semuanya belum selesai. Oh iya gara-gara formulir ini saya jadi mempunyai ide untuk tujuan hidup saya, yaitu mewujudkan cita-cita menjadi baja hitam seperti yang diceritakan di ASAM KEHIDUPAN. Jadi waktu itu saya menulis, "Pergi ke Jepang lalu beli kostum baja hitam". Saya bakal senang banget kalau itu terwujud.

Waktu wawancara pun saya dipersilakan memperkenalkan diri. Saya mendeskripsikannya agak sama dengan yang ada di Kenali Raharjo. Karena saya belajar kesalahan interview sebelum-sebelumnya, saya di sini lebih kepada menjual diri saya, seperti apa yang bisa saya kontribusikan kepada perusahaan ini, kalau dulu saya salahnya lebih mengungkapkan bahwa saya tidak suka akuntansi tapi kok bisa lulus.

Saat interview, saya bilang saya suka menulis blog, maka saya ceritakan mengapa saya menulis blog. Saya ingin sekali orang-orang yang menyempatkan membaca cerita saya mendapatkan suatu ide segar, inspirasi, kepercayaan diri, maupun motivasi hidup. Dulu saya sempat melihat statistik sumber pemirsa yang menelusuri blog OTWR saya dengan menggunakan keyword "Interview PT. Djarum". Ini menandakan bahwa, setiap insan yang ingin melamar pekerjaan pastinya tidak percaya diri, sehingga mereka menggunakan media internet untuk bersiap diri sebelum melakukan aksi. Sampai-sampai ada yang e-mail saya menanyakan apakah saya keterima atau tidak.

HRD atau siapanya PT.Harpindo Jaya melihat saya begitu semangat. Saya tidak menyangka dilihatnya seperti itu oleh mereka. Mungkin saja, terlalu banyak mendengar musik-musik jepang atau instrumen yang bersemangat. Saya suka sekali back songnya Summer Wars, Bakuman, kadang AKB48 juga, pokoknya yang beatnya tinggi dan cepat. Mbak-mbaknya yang interview saya ternyata suka blog juga, bahkan dia bergabung di komunitas blogger Semarang. Saya mempunyai tujuan baru lagi jadinya, jika saya diterima kerja nanti, saya ingin menginspirasi orang melewati blog saya, bagi yang lulusan akuntansi agar tidak takut melamar sebagai staf akuntansi, karena kebanyakan teman saya malah jadinya staf administrasi bukan akuntansi.

Hari Jumat sekitar jam 10 saya ditelpon pihak PT.Harpindo Jaya untuk mengikuti tes tertulis yang akan dilaksanakan hari ini, yaitu hari Sabtu. Saya kira, hanya saya yang dipanggil ternyata orang-orang yang kemarin datang lagi termasuk Herman. Ditambah 2 lagi wanita, saya tidak tahu namanya tapi bagian lain.



Kita pindah ke ruangan tes, dan memulai psikotest. Dijamin mudah-mudah, seperti biasa, namun butuh otak yang segar saja. Hitung-hitungan hanya waktu diberikan soal akuntansi saja. Saya saja tidak bisa menyelesaikannya karena kalkulator saya tidak bisa mentotalnya, malah "syntax error". Setelah psikotest selesai saya dipanggil lagi setengah 2, tapi ada 2 teman saya yang disuruh pulang malahan. Tapi saya diam saja, kalau saya nanti dipanggil. Ya ternyata interview dengan kepala akuntansinya. Kepala bagian akuntansinya baik sekali, lalu mbaknya yang interview tadi juga sudah siap menerima saya sebagai karyawan di sini, dia akan menunggu saya pada hari Senin besok jam 8 kurang, dengan membawa ijasah asli, uang Rp 250.000 untuk membuka rekening danamon (untuk penggajian), lalu mental saya sebagai karyawan baru.

Semoga Happynes Start Here (^^). Kenapa Happynes? Ya supaya kayak filmnya Pursuit of Happyness.

Kamis, 25 April 2013

SALAM SAPA BLOGGER PERSONAL

Halo teman-teman blogger, perkenalkan nama saya Ricky Raharjo. Sudah makan belum? Senang sekali akhirnya saya menemukan tempat di mana saya bisa mendapatkan teman-teman blog sesuai dengan kriteria blog saya yaitu personal.

Kenapa saya memilih blog personal? Awalnya saya hanya ingin melampiaskan uneg-uneg saya. Setelah diteliti ternyata saya alay sekali waktu buat blog pertama kali, bahkan templatenya membuat saya ogah untuk menulis blog itu. Akhirnya setelah banyak mendapat ilmu-ilmu dari orang-orang terkenal, seperti Steve Job dengan teori simple, mudah dan berguna, kemudian Raditya Dika yang membuat blognya lebih kepada konten yang bodoh tapi menghibur, akhirnya terbentuklah blog On The Way Raharjo.

Blog ini berisi tentang cerita keseharian saya menemukan ilmu yang saya dapat dari teman-teman, orang-orang, bahkan keluarga sekalipun, entah itu didapat dengan sengaja maupun tidak sengaja. Saya ingin sekali blog saya mempunyai pembaca, tapi karena saya sendiri agak malu untuk share blog personal ke social media, makanya saya butuh teman yang tidak dekat namun suka membaca, agar bisa saling tukar pikiran. Sekarang blog saya masih saya sebarkan ke twitter dengan mention ke sahabat saya, dan ada juga teman yang saya dapat dari omegle.

Terima kasih Blogger Energy, semoga dengan saya bergabung di sini, saya dan kalian semua dapat memberikan timbal balik yang dahsyat. Maju terus blogger personal Indonesia!

Photobucket

Selasa, 23 April 2013

Seminar Do Good Things

Sudah lama sekali ya tidak mengikuti seminar-seminar lagi. Kali ini Bro Adhi mengajak saya ke sebuah seminar yang saya sendiri tidak tahu persis apa yang nanti di seminarkan, dan siapa pembicaranya. Karena dia sudah mengetag acaranya di Facebook saya, saya melihat sepertinya acaranya menarik. Yang membuat menarik salah satunya adalah Pak Handoko Hendroyono adalah salau satu temannya Pak Rene Suhardono. Saya memiliki buku Pak Rene yang Your Job is Not Your Career dan isinya wah sekali. Ya pastinya Pak Handoko mempunyai materi yang bagus juga. Jika saya mengerti bukunya Pak Rene dan Pak Handoko yang Brand Gardener, pastinya akan menambah pengetahuan saya tentang brand dan karir.


Senin, 15 April 2013

Karaoke Bareng ASEM

Selasa lalu, saya dan teman-teman ASEM saya mengadakan acara kumpul-kumpul. ASEM adalah komunitas yang terbentuk saat saya berada di kelas X-4 (Sepuluh Empat), kepanjangannya sendiri yaitu Anak Sepuluh EMpat, simpel bukan? Seperti biasa Andi, bisa dikatakan bosnya ASEM selalu saja mengadakannya dadakan. Memang banyak yang sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, namun itu tidak menghalangi kita untuk bermain bersama lagi. Berkat kabar dari Andi, kita dapat betemu kembali. Terima kasihhhhhh! (^^)

Waktu saya sedang asyik-asyiknya main komputer, tiba-tiba ada sms masuk. Sms yang berisi bahwa nanti karaoke bareng ASEM, dan Linda sudah kangen banget sama saya. Linda adalah teman SMA saya sekaligus teman sekampus UNDIP yang rumahnya lumayan dekat dengan saya. Ya memang kebiasaan Andi selalu bawa-bawa Linda di smsnya. Tapi memang benar sih Linda sudah menunggu di rumahnya, tapi tidak tahu kalau benar-benar kangen, haha.

Saya telat, jadi kumpulnya pindah di rumahnya Andi. Sekitar 15 menit saya baru siap dari waktu sms masuk, karena saya harus mandi dan siap-siap dulu. Ya kalau saya sih memang kebiasaan, mending keluarnya sehabis sholat Isya, jadi sudah plong kalau mau apa-apa. Sesampainya di rumah Andi, ternyata saya sudah ditunggu teman-teman ASEM seperti Linda, Niken, Gigih, Pras, dan tentunya Andi. Pras tidak ikut karena sesuatu, saya tidak tahu kenapa.

Saya, Gigih, dan Andi menuju rumah Aya dulu karena ternyata dia juga telat seperti saya. Andi bersama Gigih boncengan, saya sendiri, jadi saya yang akan memboncengkan Aya. Andi memanggil Aya dari luar. Lalu dia pergi bersama motor dan Gigih menuju ke tempat karaoke. Saya menunggu sendirian di depan rumahnya Aya. Cuaca yang mendung, angin yang kencang sehabis hujan, membuat hati saya makin galau, karena kebetulan tadi kecepetan untuk ke rumahnya Andi, saya lupa membawa jas hujan. Sekitar 5 menit, Aya baru keluar, dia tidak sempat dandan, namun menurut saya itu sudah cantik.

Akhirnya tiba juga di Inul Vista, depan Tri Lomba Juang. Saya baru pertama kalinya masuk ke situ. Saya kira tempatnya sempit, ternyata tidak, karena waktu saya tanya tempat Andi dan teman-teman karaoke, karyawannya bilang ada di lantai 5. Ya saya dan Aya pun masuk ke dalam lift itu, dan segera menekan lantai 5. Gila, lantainya mengalahkan lantainya Citra Land Semarang! Saya masuk ke ruangan langsung disambut dengan hangat, walau mereka sedang asyik berkaraoke. Selain teman-teman yang saya sebutkan tadi, saya tidak menyangka akan ada tambahan teman ASEM lagi, seperti Adi, Galuh, dan Ganar. Yang namanya Ganar dan Galuh ini jarang sekali ikut kumpul, saat itu benar-benar ramai.

Ya memang agak canggung sih untuk awal-awal karaoke. Pesannya lagu-lagu pop yang dimengerti semua teman-teman ASEM. Beberapa menit kemudian saya pesan lagu Ai Se Eu Te Pego nya Micel Telo, banyak teman-teman yang tidak tahu lagu itu. Tapi waktu saya menyanyikannya, mereka agak tahu, yang tahu persis juga Gigih, makanya saya duet dengan dia. Sebenarnya saya tahu lagu ini dari Yewon, teman dari korea dulu. Jadi waktu itu dia lagi tanya ke teman campnya melalui Facebook bahwa dia suka lagu yang depannya rosa, rosa, terus akhirnya ada teman satu campnya lagi yang comment untuk memberitahu judul lagu tersebut. Ya benar sekali, saya menstalk (melihat diam-diam) akunnya Yewon, haha maaf! (^^)

Saya selalu penasaran dengan tempat karaoke, apakah ada lagu yang saya suka dalam daftar lagunya. Saya menyukai Jepang, jadi saya coba cari musik Solanin, yang dinyanyikan oleh Asian Kungfu Generation. Setelah saya cari memang ada nama bandnya namun tidak ada judulnya, saya akhirnya menyanyikan lagu jepang lainnya. Banyak yang tidak tahu lagu yang saya nyanyikan. Namun Adi tahu cerita filmya. Yap, film Yui yang terkenal Taiyou No Uta dengan soundtrack yang terkenalnya dan sedang saya nyanyikan adalah Goodbye Days. Walau teman-teman tidak tahu, mereka sangat menghargai setiap kesempatan yang diberikan kepada sang giliran, kecuali dia sendiri yang mau distop atau next.

Sudah 1 jam lewat, kita langsung memesan yang dapat menggoyang pinggul kita. Andi memainkan lagu dangdut yang saya sendiri tidak tahu liriknya. Saya, Andi, dan Galuh yang goyang, yang lainnya duduk-duduk saja, tapi it's okay jadi ada penontonnya kalau begitu. Saya menari ala Tukul yang berjalan seperti robot konslet yang mengepak-kepakkan sayapnya. Galuh hebat sekali saya salut karena dia bisa hapal lirik lagu dengan bahasa daerah, saking hebatnya saya beri saweran. Tidak seperti saweran biasanya memakai uang kertas, saya memakai tisu untuk mensawer Galuh dan Andi. Kucing pun tertawa, saya suka melihatnya saat tertawa. Kucing adalah panggilan kesayangan para ASEM kepada Linda. Tidak ingin kalah dengan mereka saya pun makin meliar dengan gaya Tukul. Saya bisa melakukan banyak hal jika lagi seru-seruan. Gaya wayang kulit memarahi anak wayang kulit pun saya lakukan dengan sepenuh hati.

Sebelum saya pulang saya pergi ke toilet dulu, karena itu saya jadi agak telat untuk turun ke lantai 1. Memang saya suka semuanya plong dulu sebelum melakukan yang lainnya, loh kok kata-katanya kayak yang tadi? Memang sengaja, untuk menegaskan kebiasaan saya, hehe (^^). Ketika sudah di lantai 1, saya melihat anak-anak ASEM sudah pada di luar. Saya tanya kepada Andi, dia menyuruh kepada saya untuk membayar semuanya, tapi saya tahu saya dibodohi, makanya saya berlaku seperti orang bodoh untuk menjaga etika persahabatan. Sudah dibayar, tapi saya tidak tahu siapa yang membayar, padahal sudah tanya siapa yang bayar, tapi teman-teman sudah mau pergi lagi ke warung roti bakar yang terletak di Jl.Majapahit.

Di situ saya dan teman-teman sharing-sharing, kangen-kangenan, dan pastinya makan-makan dengan uang sendiri. Tidak hanya itu, kita juga ingin sekali merencanakan kumpul-kumpul seperti ini lagi. Ada yang menyarankan renang di Waterblaster, ada yang arung jeram, ada yang ke pantai Bandengan, ada yang ke Sidomukti, dan lain sebagainya. Agar pertemuannya berkesan, kita foto-foto, karena saya telah menjadi ikon Fotografernya ASEM, saya jadi senang hati memfotokan mereka, dengan hasil tanpa saya. Oh ternyata Andi baik sekali, gantian memfotokan saya dengan teman-teman ASEM. Inilah hasil yang difoto oleh Andi.


Di warung itu kita makan roti bakar dengan minuman wedang yang menghangatkan pertemuan kita. Waktu itu saya pesan roti bakar kornet, karena dulu saya ingat kata-katanya Tintin, kalau kornet itu enak. Lumayan enak sih, tapi jadinya lama sendiri, saya makan paling akhir waktu itu. Semoga ada kumpul-kumpul ASEM lagi, Amin.

Senin, 08 April 2013

Tentang Social Media

Sebenarnya yang bikin galau tuh update status. Kenapa? Sebelum kamu update kamu bakal disuruh mikirin apa yang kamu pikirin. Tertekan ga sih sama socmed? Namanya juga media, itu akan terekam dari mulai kamu buat hingga sekarang. Jadi setiap kamu online kamu bakal lihat status yang dulu-dulu. Yang berarti kamu akan selalu melihat masa lalu, yang takutnya bisa berakibat susah move-on. saya pun ketika menulis ini, sama halnya dengan para facebooker.

Saya tidak bisa menyalahkan status yang muncul di beranda. Ini seperti waktu saya mendapat ilmu dari film, yang isinya tentang penulis cerita film. Dia diberi job untuk membuat film horor indonesia yang gaje, seperti pocong ketiban duren atau apa. Sebenarnya si penulis cerita itu mempunyai karya masterpiece yang luar biasa. Namun setelah melihat kondisi ibu kota yang memang hidup seperti itu, dia ambil job itu demi memenuhi kebutuhan keluarganya

Bahkan saya terpikirkan tentang sinetron-sinetron, atau fenomena yang alay, atau apa, kenapa dibiarkan? Menurut saya itu memang sengaja dibiarkan agar menjadi ciri khas negara kita yang supaya orang asing yang datang ke Indonesia merasa dia menemukan dunianya yang baru, yang berbeda dari yang biasa. Karena pemikiran itu pun saya menyukai orang-orang yang berdagang menjadi PKL, Booth, Stand atau usaha-usaha kecil yang mejeng di pinggir jalan, soalnya saya jarang menemui hal seperti itu di jalan-jalan pada film Hollywood. Orang yang seperti itu tuh menurut saya, turut menambah daya tarik wisata asing, dan itu bisa disebut Truly Asian. Kesimpulannya status ini tidak akan ada ujungnya, mungkin hanya bisa bilang update status adalah salah 1 bentuk kebiasaan Indonesia, dan itu gapapa, karena itu Asia.

Ada teman saya dari Jepang bernama Kayo suka mengudpate status yang sangat panjang-panjang, dan isinya itu, selalu membuat saya terinspirasi dari foto dan tulisannya. Beda dengan pribumi kebanyakan, mereka update status pendek-pendek, dan isinya membuat pembacanya galau. Bukannya memaksa untuk berubah, namun ada baiknya kita mengupdate status yang baik-baik. Satu postingan kebaikan dalam facebook anda turut mengurangi angka galau di Indonesia. Jadi lebih baik perhatikan postingan anda sebelum mengupdate status.

Tulisan ini sebenarnya mau saya posting di facebook, tapi karena pemikiran saya yang masih berputar-putar layaknya INCEPTION, akhirnya saya posting di sini saja. (^^)

Kamis, 04 April 2013

Her Confession

Kemarin saya mendapat message dari seseorang. Seseorang gadis yang pernah membuat hidup saya beda walau hanya dalam beberapa hari saja, karena tidak terpikirkan oleh saya kenapa bisa begini jadinya. Namanya Naini, dia adalah teman SMA saya. Sebelumnya saya lupa dia itu siapa. Karena dia memiliki akun facebook dan mempunyai teman yaitu saya, dia memberitahukan bahwa dia adalah teman satu SMA saya dulu, yaitu SMA 10.

Waktu itu kami curhat-curhat di chattingan Facebook. Saya pun jadi tertarik untuk menggali informasi tentang dirinya. Dan ternyata, dia adalah anaknya Bu Eko. Beliau adalah guru les-lesan saya sewaktu saya di bangku SMP. Berarti Naini itu rumahnya dekat sekali dengan saya, hanya beberapa jalan/gang dari rumah saya. Saya menceritakan bahwa dulu saya pernah melihat dia sedang ikut nimbrung waktu les berlangsung. Naini jarang melihat melihat ke belakang, namun saya bisa melihatnya, apa karena dia malu?

Di tengah kami sedang berchatting ria, tiba-tiba dia beralih ke pembicaraan serius. Naini sudah tidak tahan lagi, sepertinya mau bilang itu dari tadi bahwa sebenarnya dia suka sama saya ketika di banku SMA, namun saya tidak menyadarinya dan tidak mengenal malahan. Kemudian saya janjian ketemuan saja agar lebih clear. Saya tetapkan di Perpustakaan Wilayah, lusa ini.

Hari janjian pun tiba, kami pergi ke Perpustakaan Wilayah. Kenapa di situ? Saya menyukai karena tempatnya sepi, bisa menambah ilmu, dan paling enak untuk ngabuburit, karena dulu kebetulan kenal tempat itu waktu bulan Ramadhan. Walaupun kami mengambil buku untuk dibaca, tapi kami sepertinya tidak niat untuk membacanya. Kami malah asyik mengobrol dengan suara rendah di dekat tukang fotokopi yang ada di dalam perpustakaan itu.

Setelah dari Perpustakaan Wilayah kami melanjutkan ke luar untuk jalan-jalan lagi. Karena tadi kami membahas soal film-film Thailand, saya jadi teringat tentang snack Tao Kae Noi. Jadi kami mendatangi sebuah supermarket ADA yang ada di daerah sekitaran Tugu Muda. Barang yang kami cari pun ada, lalu kami membelinya dan waktu itu yang membayar adalah Naini. Saya bilang "Nanti kita gantian yah bayarinnya", agar ada timbal balik. Kami pun pulang dan ketika sudah sampai rumah Naini, saya tidak sempat membagi Tao Kae Noi-nya. Dan akhirnya Tao Kae Noi-nya diberikan untuk saya dulu, karena Naini waktu itu juga membeli biskuit kesukaannya, jadi bukan masalah besar.

Esok malam harinya, kami berchatting lagi. Naini berterima kasih karena sudah mengajaknya ke luar. Tiba-tiba dia chat agak menggetarkan saya. Dia bilang waktu itu dia sudah mengatakan ke pacarnya bahwa dia sayang sama saya, dan cinta sama saya. Ternyata pacarnya sendiri adalah teman saya sendiri, saya jadi tidak enak hati. Saya jadi berdosa walau hanya mengajaknya dia ke luar, kenapa saya tidak saya tolak saja waktu itu. Mungkin karena saya belum pernah diperlakukan seperti itu.

Pengakuan cinta seorang gadis kepada saya adalah pertama kali saya alami. Saya bingung dan merasa bersalah, saya jadi bingung untuk membalas seperti apa. Saya diam, tapi Naini terus-terusan chat. Saya melihat chat-chatnya menunjukkan sekali bahwa dia suka sekali dengan saya. Sekarang saya jadi tahu kenapa banyak gadis yang cuek kalau laki-lakinya terlalu meminta. Sebenarnya dalam posisi saya ini, mungkin adalah posisi laki-laki beruntung bisa ditembak duluan oleh gadis. Namun ternyata tidak semudah itu untuk memutuskan. Malamnya dia menangis terus, saya tidak bisa berbicara apapun, saya bisa merasakan chat yang dia berikan kepada saya. Saya bilang maaf, dia berusaha pura-pura tegar, namun apa daya dia adalah perempuan.

Karena kejadian itu, saya keluar bersama dengan Kang Saef untuk membeli Tao Kae Noi. Nantinya snack Tao Kae Noi itu aku berikan kepada Naini. Sesampai di depan rumahnya, Kang Saef duduk di luar rumahnya menjaga motor saya itu, karena saya tidak akan lama menemuinya. Ketika saya mengundang Naini, dia tidak berjilbab seperti biasanya. Ketika dia ke luar, tidak banyak kata yang ingin diucapkan. Dia terlihat hitam di sekitar matanya dan  menungggu kata-kata yang terucap dari saya. Saya hanya bilang "Maaf, ini yang aku janjikan", sambil memberikan snack Tao Kae Noi itu. Setelah itu saya menuju ke motor Tiger saya. Sebelum pulang saya sempat meneteskan air mata, entah kenapa. Lalu pergi meninggalkan dengan senyuman terakhir agar dia tidak sedih.

Esoknya saya kedatangan tamu yang tak diundang. Dia adalah Alfid, pacarnya Naini dan juga teman saya waktu SMA namun berbeda kelas. Dia baru pertama kali ini datang ke rumah saya. Dia bisa datang karena informasi sahabat SMA saya yang dulu pernah tinggal di rumah saya tapi sekarang dia pindah rumah. Sudah pasti dia meminta penjelasan kenapa saya dekat dengan Naini. Dia marah sekali, saya tetap dingin untuk meredakan suasana. Saya jelaskan bahwa saya dan Naini itu berteman saja. Saya agak tidak terima, saya menjelaskan dengan baik-baik bahwa saya tidak ada perasaan apa-apa dengannya, saya menekankan kepada Alvid untuk selalu menjaganya dan menghiburnya. Percakapan hanya sebentar dia hanya meminta kepada saya untuk tidak berkomunikasi lagi dengan Naini, saya turuti namun dia harus melakukan apa yang saya ucapkan.

Setelah itu, saya pun masih sempat menerima pesan-pesan dari Naini melewati Facebook dan pesan singkat di HP. Pesan-pesan itu tidak lain adalah agar saya bisa menjadi pacar atau semacamnya, yang pastinya tidak dikatakan secara langsung. Hingga akhirnya dia memberi pesan yang menyatakan bahwa saya jahat. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya dia unfriend saya di Facebook.

Beberapa bulan sudah terlewati tanpa ada kabar dari Naini lagi. Namun kemarin saya mendapatkan pesan tentang dirinya bahwa dia sudah lulus tinggal menunggu wisuda, saya pun turut senang. Tapi saya tetap menjaga perkataan saya.





Terima kasih juga Naini untuk kebaikanmu yang selama ini engkau berikan. Walau hanya sebentar mengenalmu, saya bisa mengerti banyak hal tentang hidup ini. Bahwasanya jika saya menolak kamu saya telah kehilangan orang yang mencintai saya. Tapi ketahuilah kamu Naini, kamu mungkin kehilangan cintaku tapi kamu tidak kehilangan aku sebagai teman kamu, teman yang akan selalu membantu kamu demi kebaikan. Sekali lagi terima kasih atas hari-hari yang menyenangkan itu. Semoga kamu bahagia dengan orang yang benar-benar mencintaimu.

Senin, 01 April 2013

Memaknai Pengorbanan

Saya lebih menyukai motivator yang berdasarkan dengan tindakan nyata. Orang yang tidak terlalu terkenal pun bisa menjadi motivator entah itu sengaja maupun tidak sengaja. Kadang Tuhan menghadirkan sosok orang yang dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi kita, dan biasanya dia/mereka dihadirkan di hadapan mata kita langsung. Tinggal bagaimana anda memaknainya.

Kemarin hari Minggu saya bertemu seorang laki-laki sudah tua, umurnya mungkin 50 tahun, dan 2 anak kecil yang sedang duduk di samping saya. Ada seorang penjual makanan yang lewat dan menawari makanan kepada mereka bertiga, namun mereka menolaknya dengan murah senyum dan bilang kalau sudah makan. Anak perempuan kecil itu berceloteh, "Kok ga malu ya kerja kayak gitu". Kemudian laki-laki tua itu menjawab, "Ya engga tha nak, mereka kan jualan makanan yang halal dan penghasilannya dari kerja keras mereka, uang yang di dapat pastilah halal, jadi kenapa harus malu". Percakapan orang tua dan anak-anak itu menyinggung saya yang sekarang tengah menjalankan bisnis, benar juga ya kenapa harus malu.

Hari Kamis lalu saya dan sahabat saya Yoppy menghadiri acara Youth Talk yang diselenggarakan oleh AIESEC UNDIP. Di situ saya mendapat pencerahan tentang traveling ke luar negeri dari speakernya. Waktu itu yang berbicara adalah Anggi dan Nico. Anggi adalah mahasiswi Teknik Kimia yang hobi travelling, sedangkan Nico adalah fotografer sekaligus blogger.

Dari Anggi, saya bisa tahu bagaimana merencanakan liburan ke luar negeri yang nyaman, aman, murah, dan fun. Misalnya kalau kita mau mengunjungi 5 negara dalam 1 bulan kita bisa mengunjunginya dari negara yang paling jauh dulu, lalu terus sampai ke negara yang terdekat, supaya nanti kalau pulang tidak berat di ongkos, karena kadang ada negara yang bisa dilalui dengan jalur darat.

Terus ada lagi nih, kalau misalnya kita mau pergi ke luar negeri, kita harus mengumpulkan informasi dulu, apakah itu tempat buat pacaran, senang-senang sama teman, atau belanja murah? Makanya kita butuh team yang solid jika kita ke luar negerinya bersama teman-teman. Jadi di setiap negara bisa dipimpin sama teman kita yang sudah mengumpulkan data negara tersebut. Contohnya begini deh, saya mau liburan dengan teman saya, dengan Yoppy dan Kang Saef. Kang Saef saya suruh mencari data negara Thailand, Yoppy mengumpulkan data negara China, dan saya mendapat negara Singapore. Nah, terus saya presentasiin ke Yoppy dan Kang Saef tentang negara Singapore, dari nanti tempat mainnya, tempat nginep, tempat belanja, dan pastinya budget, begitu juga nanti yang dilakukan dengan Yoppy dan Kang Saef. Anggi dan teman-temannya sendiri sudah merencanakannya selama 6 bulan sebelumnya, dan mereka menabung selama 6 bulan itu hanya untuk melakukan liburan ke 5 negara di Asia Tenggara hanya selama 1 bulan. Pengorbanannya berhasil dan sekarang buktinya dia bisa membuktikannya di hadapan saya dan berbicara menjadi speaker di Youth Talk.

Mas Nico () memberikan pengalaman tentang dirinya sewaktu traveling ke Macau. Karena beliau adalah Creative & Social Media Manager di , beliau memberikan cara memfoto apa saja kalau kita sedang di luar negeri. Mas Nico sendiri kadang malas mengeluarkan kamera jika untuk mengabadikan sesuatu dalam perjalanannya, makanya dia hanya menggunakan smart phonenya. Dengan kamera HP pun sudah bisa menghasilkan foto-foto yang memorable, waktu itu dipresentasikan ketika beliau memfoto negara dari dalam pesawat melalui jendela pesawat. Ada juga foto narsis, bukan foto tentang expresi banci kamera melainkan foto passport dan tiket yang akan dikunjungi. Lalu foto-foto buat fun waktu jalan-jalan di luar negeri, seperti candid-in orang asing yang sedang narsis. Tapi saya melihat beliau mendokementarinya dengan video juga, saya lebih menyukainya karena terlihat hidup dan seakan-akan kita berada di situ saat itu juga.

Ketika acara mau selesai ada acara namanya sharing community. Waktu itu saya mempromosikan Prolog, komunitas kamera analog saya di depan para hadirin. Karena disuruh cepat saya pun hanya beberapa patah kata tentang PROLOG. Lalu setelah acara sharing community, dilanjutkan dengan acara foto bersama. Berikut foto bersama anak-anak muda yang hadir di Youth Talk.

.


Setelah acara itu, saya melanjutkan makan nasi goreng ayam di daerah majapahit favoritnya anak Canopus. Saya akan makan bersama Yoppy di warung yang kecil itu. Tidak disangka kita bertemu dengan Abas di warung itu. Kita sempat sharing-sharing selama satu jam di situ. Kita membahas tentang passion dan pengorbanan karena masih kepikiran dengan acara tadi.

Yoppy sharing tentang waktu, bahwa kita tidak bisa memilih 2 pilihan passion dalam waktu bersamaan. Makanya kita harus mengorbankan salah satunya. Dia mencontohkan kepada saya begini, saya tidak bisa pergi ke rumah Yoppy dan Abas dalam waktu yang sama, pastinya saya harus bisa memilih sala satu. Salah satu harus dikorbankan istilahnya demi mencapai salah satu tempat tersebut.

Berbicara soal pengorbanan, saya jadi teringat orang Jepang yang saya kenal dari Youtube, namanya Mijonju. Beliau adalah orang yang mencintai kamera entah itu analog, digital, ataupun polaroid layaknya orang gendut menyukai coklat (tag linenya Mijonju Show yang saya terjemahkan). Tapi kadang tidak selalu kamera saja, kadang barang-barang yang keren, karena beliau saja sekarang selalu dibilang orang keren sama orang yang mendatangi channelnya. Video selain kamera, berikut clipnya dari Youtube.


Lihatlah komen di bawahnya. Di situ tertulis "nah i sold my kidney for this bike :)". Beliau menjual ginjalnya demi mendapatkan barang yang dia suka. Salah satu pengorbanan yang membutuhkan keberanian tinggi, yang tidak sembarangan orang akan melakukannya. Yang artinya apa, coba rasakan apakah pengorbanan kita sudah cukup keras atau sakit seperti mendonorkan ginjal demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Minggu, 31 Maret 2013

Meet International Volunteer!

Setelah ekspedisi menemukan Rina berakhir. Saya jadi kenal dengan namanya Kayo dan teman-teman Jepangnya di Tegalrejo, saya memutuskan mengikuti seminar yang mereka adakan. Acara ini berkaitan tentang kepedulian anak-anak. Diskusi Internasional ini dihadiri Indonesia, Jepang, Perancis, dan Jerman. Saya hadir di situ dengan teman saya Kang Saef.

Kali ini saya akan memperlihatkan video Kayo, teman-teman Jepang, dan IIWC yang sedang menampilkan tarian khas Jepang, yaitu Soran Bushi. Silakan tonton klip berikut ini.

Finding Rina! - The Conclusion -

Awalnya saya antara malas dan tidak untuk menghampirinya, namun harus! Jadilah apa artinya perasaan itu? Bisa diartikan saya sedang bimbang atau bahasa kerennya GALAU! Ada perasaan grogi yang luar biasa sekali terjadi pada saya, padahal jarak masih jauh sekali. Saya memikirkan apa ya yang akan saya bilang nanti ya? Nanti kalau tidak suka bagaimana ya? Terus reaksi para IIWC ntar gimana ya? Apa saya tidak sopan tiba-tiba masuk dalam komunitas itu? Pikiran-pikiran itu terus bermunculan di kepala saya. Dengan masih memikirkan hal itu, motor tetap dengan kecepatan normal menuju tempat campsite tersebut. Seperti ada kekuatan cinta yang menggerakkan saya.

Merasa tersesat saya melihat print-print-an yang saya siapkan dari rumah. Menurut peta tersebut saya sudah melewati batas Desa Jatijajar namun belum ketemu juga mana tempat untuk masuk desanya. Kebingungan saya pun beristirahat dulu di Indomaret yang berada dekat dengan jalan raya. Saya membeli satu botol minuman segar untuk menghilangkan rasa haus saya. Kebetulan waktu itu ada gadis yang sedang menjaga toko aksesoris wanita yang sedang menganggur. Langsung saja tanyakan tentang Desa Jatijajar itu, waktu itu saya tidak menanyakan secara lengkap dia hanya bilang nanti kalau ada gapura masuk saja.  Ya sudah saya coba ke sana namun sesampainya di sana tidak ada tulisan Desa Jatijajar tersebut. Waktu itu saya berhenti sejenak dan memastikan lagi dengan peta buatan saya itu. Banyak pejalan kaki yang melewati saya dari berbagai arah. Saya pun mencoba bertanya dengan Bapak-bapak yang sedang lewat itu. Dia bilang bahwa tempatnya itu berada di depan Pabrik Coca-cola. Saya berpikir bukannya tadi depan Coca-cola itu tempat gadis yang berjualan aksesoris tersebut?

Kemudian saya menanyakan lagi tentang keberadaan tempat tersebut kepada gadis yang berjualan aksesoris itu. Sekarang dia menunjukkan arah yang tepat, saya tinggal mengikuti perintahnya saja. Saya pun mencoba berjalan pelan-pelan berlawanan arah, karena gapuranya ada di kanan jalan belokan pertama dari tempat gadis tadi. Dengan reding menyala ke kanan dan rasa hati-hati saya menelusuri jalan tersebut. Banyak bus dan angkot yang kadang-kadang berhenti di depan saya. Gapura yang dimaksud gadis tadi sudah kelihatan. Akhirnya saya bisa menemukan yang namanya Desa Jatijajar itu. Senang sekali seperti salah satu QUEST saya, sudah CLEARED. Tapi saya tidak bisa senang begitu saja karena misi yang lain masih menunggu.

Misi yang lain adalah bagaimana saya bisa menemukan Rina atau para member IIWC di tempat yang sangat luas ini. Saya dan motor Tiger saya pun memulai mencari tanpa bertanya-tanya dulu. Saya mencoba menghafalkan belokan-belokan yang ada di sepanjang jalan Desa itu. Untuk mempermudah saya mengambil ke arah kanan terus dan lurus agar mudah kembali ke gapuranya lagi. Tempatnya sangat sempit dan agak ramai penduduk. Setelah mentok dan tidak tahu harus ke mana lagi, saya bertanya pada penduduk setempat, apakah pernah melihat IIWC atau semacamnya dengan memperlihatkan foto.

Hari sudah mulai memasuki malam. Maghrib pun berkumandang, saya pun mencoba kembali ke depan gapura lagi. Ada Masjid yang sudah saya lewati di dekat gapura dan di situlah saya akan sholat maghrib. Ketika sholat saya berdoa kepada Allah SWT, tidak lupa sholawat yang diajarkan oleh Ustad Yusuf Mansyur. Setelah saya sholat saya melihat sekumpulan anak muda yang sepertinya sedang mencari sesuatu dengan tas ranselnya yang besar. Saya berpikir mungkin saja mereka adalah member IIWC. Saya pun mencoba bertanya darimana kah mereka? Ternyata mereka sedang mencari kos-kosan, dan tentu saja bukan IIWC.

Saya duduk di kursi bata yang ada di depan masjid sambil melihat foto Rina. Saya pun browsing facebooknya IIWC di hp Blackberry saya untuk mengetahui pasti kegiatan yang berlangsung saat itu. Sewaktu saya melihat-lihat foto IIWC, saya terpikirkan untuk memperlihatkannya kepada warga sekitar. Kebetulan waktu itu ada bapak-bapak yang duduk di dekat saya. Dengan nada perlahan saya bertanya kepada beliau dengan memperlihatkan foto IIWC itu. Setelah bertanya bapak ini menanyakan lagi ke bapak-bapak yang lainnya. Beliau tahu tapi tidak tahu lokasinya, dia menyuruh saya untuk pergi di toko pojokkan itu yang ada di pertigaan jalan.

Berbekal informasi yang saya dapat saya pun mendatangi toko kelontong itu. Saya melihat penjualnya sedang sibuk melayani pembeli. Pembeli terus berdatangan dan saya jadi kesusahan untuk menanyakan tentang keberadaan campsite IIWC. Sekitar 20 menit, pembeli masih berdatangan juga namun sekarang lumayan sepi. Waktu pembelinya hanya satu, saya langsung saja dekatin si penjualnya. Setelah pembelinya yang itu sudah beli, saya pun bertanya tentang keberadaan lokasinya. Beliau memberitahu patokan dan arah menuju ke sananya, namun beliau bilang bahwa rumah yang dituju itu hanya persinggahan sebentar bagi para member IIWC. Penjual itu sepertinya sedang sibuk, saya jadi tidak enak jika memintanya untuk mengantar dan menunjukkan lokasinya.

Saya merasa putus asa waktu itu karena situasi dan kondisi saat itu. Saya pun meratapi nasib saya di dudukan motor Tiger, sambil terus membaca sholawat berharap diberi kemudahan oleh-Nya. Ketika saya sedang sholawat, ada laki-laki sudah kebapakan menghampiri saya. Awalnya saya takut, kemudian dia tanya, "Mas lagi cari IIWC ya?". Saya balas saja "Iya, tahu lokasinya di mana mas?". Dia menjawab dengan murah senyum, "Wah saya tidak tahu mas, tapi mungkin mas bisa saya bantu ke tempat yang biasanya mereka kunjungi?". "Wah, beneran mas, boleh mas?", jawab saya dengan terkejut. "Boleh, mending mas ikutin saya saja dari belakang ya", dalam hati baik banget ya bapak ini. Kemudian beliau langsung men-start mesin motornya lalu berangkat, dan saya pastinya mengikutinya dari belakang.

Sekitar 2-3 menit tibalah kami di suatu rumah yang di mana terasnya ada undak-undakkannya, jadi rumahnya harus dicapai dengan mendaki maksudku melewati pijakan ke atas itu. Saya agak canggung karena bapak yang tadi terlalu baik, soalnya waktu itu dia langsung mengetuk itu pintu dan memanggilkan pemilik rumah tersebut. Ada 2 sosok bapak-bapak dan ibu-ibu muncul dari rumah itu dan menanyakan kepada saya, "Ada keperluan apa anda datang ke sini?". Bapak yang baik yang saya kenal waktu awal menjelaskan bahwa dia ingin bertemu dengan member IIWC dari Jepang. Saya pun tanpa ragu menanyakan keberadaan Rina, "Jadi kamu mau bertemu dengan gadis yang di foto ini?". Saya pun menjawab "Iya Pak!", bapak yang baik hati tadi nyeletuk "Mau dipek bojo ya mas, hehe?", yang artinya mau diambil istri ya mas. Ya saya hanya senyum dan iya-iya saja deh hehe (^^).

Kemudian bapak dan ibu itu meminta saya untuk menunggunya di dalam, karena nanti yang menunjukkan jalannya adalah anaknya yang sekarang belum pulang kerja. Ibu itu menghidangkan teh untuk saya, dan bapak itu mempersilakan untuk meminumnya, baik sekali memang warga di situ. Saya di situ banyak tahu tentang IIWC yang sudah pernah singgah di rumah ini. Tidak lupa saya menanyakan tentang Rina, dan mereka sepertinya pernah melihat. "Ini ndak Yuka?", tanya bapak itu, saya balas saja "Bukan". "Oh, mirip Yuka ya..", kemudian beliau memperlihatkan foto kenangan bersama IIWC yang di situnya ada Yuka. Memang agak mirip sih, salah satunya warna kulitnya sama, yaitu putih. Mereka cerita tentang cara mereka bertahan karena lapar, berbahasa, dan pokoknya semua hal tentang adaptasi.

Setelah berbincang agak lama, anaknya yang baru pulang kerja datang ke rumah. Dengan masih memakai jaket dia langsung mengajak saya ke tempat IIWC. Sebelumnya dia sudah biasa mengantar orang yang mau ke tempat IIWC. Makanya jika ada orang yang mau bertemu karena urusan sesuatu, dia pasti akan membantu.

Tempat yang kita tuju adalah Tegalrejo. Tegalrejo adalah salah satu tempat prostitusi yang berada jauh dari pusat kota Semarang dan tempatnya tidak jauh dari Desa Jatijajar. Dan disitulah, saya akan bertemu dengan member IIWC yang dari Jepang. Awal masuk saya agak canggung apakah harus bayar atau tidak, namun untungnya mas yang ngantar saya sudah kenal dengan yang jaga, jadi saya bisa memasukinya dengan gratis dan aman.

Saya melihat tidak terlalu banyak pemandangan erotic, hanya melihat 1-2 pekerja sex komersial dan suara-suara karaoke yang keras, saya berpikir mungkin mereka bersenang-senangnya di dalam rumah. Masnya yang mengantar saya masuk ke gang sempit, dan tidak jauh dari situ dia berhenti. Kemudian dia bilang kepada saya, "Kita sudah sampai Mas, Mas udah dikunci motornya?". "Sudah Mas", jawab saya. "Tunggu di sini sebentar", tegas Masnya. Lalu dia langsung pergi ke tempat paling pojok rumah yang berada di jalan buntu itu. Terlihat Masnya sedang berkomunikasi dengan orang yang di dalam rumah itu. Tidak lama dari itu saya disuruh ke sana, dan masnya pamit pulang ke saya, tidak lupa saya berterima kasih dengan masnya.

Saya jalan pelan-pelan menuju rumah itu. Ada laki-laki bertato seperti preman yang sedang duduk di kursi sofa depan rumah-rumah di jalan yang sempit itu. Saya agak takut untuk melangkah, tapi setelah saya bilang permisi, reaksi laki-laki bertato itu ramah sekali, dia mempersilakan lewat dengan keterbukaan hati dan senyuman. Sekitar 2 meter dari rumah yang dimaksud, saya mendengar suara orang-orang Jepang bergumam seperi "Nani?", "Dare?", dengan nada sedikit bingung.

Tibalah saya di rumah itu disambut oleh Mbak Dita atau Gita saya lupa. Dia adalah ketua IIWC dalam proyek tersebut. Badannya gemuk, pakai kaca mata, rambut keriting, pipi cubi, dan pastinya memakai seragam IIWC yang merah itu. Keadaan ramai sekali dalam rumah sempit. Di dalamnya itu saya melihat orang-orang Jepang sedang bersenda gurau dengan bahasa Jepangnya. Tapi ada yang aneh. Saya mencoba menanyakan langsung kepada mbaknya dengan memperlihatkan foto yang ada di HP saya, apakah pernah melihat Rina. Setelah dia melihat, dia menjawab, "Aku kurang tahu mas, ini mungkin proyek yang satunya yang di mangkang". Terus karena saya mengenal Taufik tapi belum bertemu dengannya, saya mencoba ingin bertemu dengannya dengan tanya kepada mbaknya itu.

Akhirnya dipanggilkanlah Mas Taufik. Dia agak bingung dengan saya, karena baru ketemu tiba-tiba ketemunya di tempat Camp. Dia agak canggung, kaget, dan agak tidak percaya. "Kamu bisa ke sini gimana ceritanya?", tanya Mas Taufik. "Oh tadi dibantu orang dari Desa Jatijijar Mas. Ngomong-ngomong tahu Rina ga Mas?", tanya saya dengan memperlihatkan foto Rina di HP saya. "Oh ini, dulu pernah ketemu sih, udah lama, kayaknya udah pulang deh Mas", jawab Mas Taufik. "Iya sepertinya juga begitu Mas, coba saya panggilkan ketua yang dari Jepang dulu, Kayoooooo!", tegas Mbak Gita.

Kemudian saya dihadapkan dengan wanita yang energik dari negara Jepang namanya Kayo. Dia mempunyai rambut yang pendek, dan sepertinya dia suka senyum riang. Terus saya tanya dengan bahasa Inggris, "Do you ever meet Rina?". "Hmmm, Rina...?", diperhatikan foto itu dengan seksama oleh Kayo. "I think you ever meet Rina, when the first time she come in Indonesia", tanya Mas Taufik kepada Kayo. "I am sorry, I think I couldn't help", jawab Kayo. Tiba-tiba ada orang Jepang yang mau masuk bertemu dengan saya, gadis Jepang yang rambutnya pendek dan disemir emas. "Hai! My name is Ayaka! Nice to meet you!", dengan semangat dia menyapa. "I am Ricky, nice too meet you too! Do you have Indonesian name?", tanya saya agak bercanda. "Indonesian name, I don't hehe, should I?", tanya dia kebingungan. "Yeah of course! Hehe", jawab saya agak gaje.

Waktu itu saya ingin dihibur namun melihat masih pada sibuk saya pun pamit pulang kepada mereka. "Terimakasih mas, mbak, Kayo, sampai jumpa lagi, ja mata ashita!", Kayo membalas "Ja!". Saya pun pulang mengendarai Tiger saya, dengan diiringi cuaca hujan menambah kegalauan saya. Dalam perjalanan saya agak kecewa, sedih karena tidak ketemu juga dan sempat meneteskan air mata. Nasib barang kenang-kenanganku untuk Rina masih ada dalam tas.


 - Barang kenangan kondisi saat ini -

Setelah 2 atau 3 bulan terlewati, saya melihat video dari IIWC. Di video itu ada Rina! Saya pun langsung mencari info tentang itu, saya mencoba mencari-cari dan ternyata.... Ternyata Rina sudah memiliki pacar di Facebooknya, dan nama Facebooknya Rina Sakakura bukan Rina Asakura. Terjawab sudah semua kegalauan ini. Saya sedih, sesedihnya, karena dia, saya bisa melupakan mantan gebetan saya. Saya pun bisa tidak ingat ternyata waktu saya bertemu Rina, itu bertepatan dengan ulang tahunnya mantan gebetan saya. Karena Rina saya bisa move-on seperti itu. Saya add pun sampai sekarang ini belum diapprove juga oleh Rina. Mungkin saya salah mengartikan itu semua, perasaan saya itu hanya "SEPIHAK".

- End -

Selasa, 26 Maret 2013

Finding Rina! - The Preparation -

Setibanya di rumah, masih terngiang-ngiang wajah wanita Jepang itu. Terima kasih Ya Allah telah mempertemukan saya dengan Rina. Hanya dengan berbekal informasi yang secukupnya, saya langsung menghidupkan komputer untuk browsing. Mulai dari facebook saya searching nama Rina Asakura. Banyak sekali nama Rina Asakura-nya. Anehnya saya tidak melihat muka si Rina yang saya tahu itu. Saya melihat ada yang namanya Rina yang fotonya itu berada di Bali, karena ada kotak-kotak hitam putih begitu. Lalu saya add friend dan mengirimkan pesan saja kepada Rina itu. Pesan singkat yang saya tulis itu adalah "Do you remember me Rina?".

Waktu saya membuka Facebook, saya melihat ada acara yang akan datang. Di situ tertulis acara hunting foto bareng bersama komunitas PROLOG dan dimulai besok dari siang sampai sore di Watu Gong. Sebelum hari esok saya entah kenapa ingin memberikan sesuatu kenang-kenangan untuk Rina. Saya mengeprint hasil foto waktu kita foto bersama di Simpang Lima, lalu saya laminatingkan di fotocopyan agar terlihat rapi. Karena merasa kurang lengkap saya membelikan tas kardus bermotif batik untuk saya masukkan kenang-kenangan itu. Saya pun menuliskannya pesan dengan satu sobekan kertas yang berisikan "You are the most amazing girl I ever met", di bawahnya saya kasih terjemahan Jepangnya dengan google translate. Kertas itu pun saya masukkan juga ke dalamnya.

Hari hunting foto pun tiba, dan yang datang hanya lima orang saja. Waktu itu teman saya Sena kasihan sekali, kamera satu-satunya yang dia beli dari ebay, RUSAK! Dia adalah salah satu anggota dari komunitas IIWC juga. Sena pernah masuk di komunitas manapun, Semarang Lair, IIWC, Airsoftgun, dan lain-lain. Berikut adalah foto Sena waktu saya ambil gambarnya menggunakan kamera Fisheye No.2 saya.


Lihat tampangnya, sepertinya dia sedang bersedih melihat arwah kameranya melayang ke angkasa. Hunting pun berjalan lancar karena cuacanya cerah. Hari sudah mulai gelap, kami pun tidak langsung pulang ke rumah. Waktu itu kami nongkrong dulu di Brada, salah satu cafe yang terletak di Tembalang. Cafe ini terkenal dengan hidangan leker dan tehnya, namun menu-menu lainnya juga tidak kalah nikmatnya.

Saya dan teman-teman Prolog membicarakan acara selanjutnya, kamera, hasil foto, dan kadang bahas lainnya. Karena Sena adalah salah satu anggota IIWC saya pun jadi ingin bertanya mengenai orang-orang IIWC itu. Banyak hal yang saya tahu, dia memberitahukan saya hal yang penting, bahwa jika saya mendatangi tempat Campsite-nya kamu tidak akan diizinkan masuk begitu saja. Sebelum hunting foto pun saya sudah mengutak-atik website IIWC tersebut, bahwa tempat Campsite-nya juga ada banyak, tapi Sena pun juga sepertinya belum pernah ikut tapi dia tahu karena dengar dari teman IIWC-nya.

Malamnya saya belum juga diapprove oleh Rina. Sepertinya ada yang aneh. Saya pun langsung berlanjut untuk searching lokasi dan jadwal yang menurut saya Rina ada di situ. Di situ tertulis bahwa Tegalrejo lah yang nantinya yang akan saya datangi. Saya pun waktu itu online Facebook juga, saya add semua orang-orang yang berkaitan dengan IIWC. Kebetulan ada satu orang namanya Taufiq, dan waktu chat dia sedang melakukan proyeknya di Tegalrejo, dan sekarang masih di Desa Jatijajarnya dekat situ.

Sebelum ke tempat itu, saya ingin tanya-tanya langsung kepada IIWC nya. Besok siangnya saya diantar oleh Sena menuju ke pusat organisasi tersebut ditemani teman saya Kang Saef. Sesampainya di sana kami pun basa-basi dulu. Waktu itu kami bertemu Mas Haniv dan Mas Tain di kantornya. Mas Haniv, orangnya baik hati dan ramah. Kalau Tain menurut saya mungkin dia sudah baca e-mail saya tentang apakah dia kenal Rina atau tidak, entah kenapa dia tidak melihat mata saya waktu menjelaskan tentang IIWC. Ya memang detail sih memberikan infonya namun saya tidak terima saja dengan caranya berkomunikasi. Kang Saef pun merasa begitu, tapi dia ingin bergabung juga, namun sayang waktu itu saya tidak memiliki uang cukup untuk bergabung, mungkin lain kali. Setelah basa-basi saya pun mencoba menanyakan keberadaan Rina, tapi tidak terlalu jelas di mana. Saya pun bertanya apakah boleh mengikuti proyek yang sedang berjalan? Jawabannya adalah tidak boleh. Tidak lama setelah itu kami tidak jadi mendaftar dan pulang.

Malamnya saya sudah galau dan ingin sekali bertemu dengan Rina lagi. Jika ini jodoh saya, saya harus melakukan yang terbaik. Bahkan saya mempunyai impian bahwa saya mempunyai wanita Jepang dan dia Islam. Saya mencoba memotivasi diri sendiri dan mengembalikan kekuatan, langsung saja saya google map tempat-tempat itu dan kemudian saya keluar untuk mengeprint peta Desa Jatijajar dan Tegalrejo itu. Karena itulah kemungkinan banyak orang-orang Jepangnya dan semoga ada Rina di situ.




Waktu itu saya ada acara untuk melamar pekerjaan di Jakarta selama tiga hari dan berakhir hari Jumat. Nah, Sabtu sorenya saya akan mencoba mencari Campsite itu. Dengan hanya bermodalkan peta dari google map, foto Rina, dan tidak lupa barang yang ingin saya kasih untuk dia, saya akan mencoba mencarinya hari itu juga.

- To be continued -

Minggu, 24 Maret 2013

Finding Rina! - The Meeting -

Saya dulu pernah janji mau bercerita tentang bagaimana saya bisa menyebut Rina itu special. Kemarin saya sedang ngobrol dengan seseorang dari IIWC namanya Agustin, saya dipersilakan memanggilnya dengan "Tintin". Kita ngechat seperti biasanya tiap malam, ngobrolin apa saja dan kadang curhat tentang kegiatan akhir-akhir ini. Tintin memancing saya untuk curhat waktu itu. Mungkin ini agak awkward tapi dia mau tahu saja kenapa dia melihat di kotak chatingannya seperti saya mau menulis sesuatu tapi tidak jadi.

Tampilan chat Tintin kepada saya, waktu itu di kotak chat saya tertulis : "kl tya lihat, sering sekali mau ngetik tapi nggak jadi//"

Padahal saya sendiri tidak menulis apa-apa, ya saya berpikir, mungkin ini saatnya dia tahu kenapa saya bisa add friend dia atau bagaimana. Kenapa bisa begitu, saya akhirnya bercerita tentang Rina kepada Tintin. Tujuan saya agar Tintin tahu saja tidak lebih, karena saya juga tidak ingin dia berpikir macam-macam tentang saya. Saya ingin bercerita saja.

Cerita berawal ketika saya sedang menikmati Minggu pagi di Simpang Lima bersama 2 teman Semarang Lair saya, yaitu ada Mas Tamam dan Burhan. Tiap minggu adalah harinya bebas mobil bagi kota Semarang. Selalu diadakan rutin tiap hari Minggu di Simpang Lima dan sepanjang Jalan Pahlawan. Dalam bahasa kerennya itu disebut "Car Free Day", tapi saya menyebutnya CFD saja supaya lebih singkat padat dan tidak jelas, kalau ingin tahu kepanjangannya, ya tanya!

Karena dulu sempat CFD dengan teman saya Widi, saya sekarang tahu tempat parkir yang enak dan murah. Tempat parkirnya di pertigaan belakang Kantor Pos Indonesia, dekat dengan warung-warung makanan seperti bubur ayam, sate, soto, dan cakwe. Bau makanan itu selalu menggoda saya untuk membelinya, namun saya harus tahan karena saya hanya memiliki seribu duaribu di dompet saya, berusaha agar uangnya cukup untuk membayar parkir dan bertahan untuk pulang ke rumah nantinya. Ibu yang menjaga parkirnya baik sekali, tapi dia tidak bisa membenahi barisan parkiran, saya maklumi saja agar lebih enak kalau parkir di situ.

Dari parkiran itu saya mendapat sms bahwa Burhan sedang makan soto dengan Mas Tamam di depan Masjid Baiturahman. Setelah saya mendapat sms itu saya langsung berjalan untuk menemui mereka. Saya berjalan melewati parkiran liar di belakang gedung ACE Hardware. Kondisi tempat itu menjadi sangat sempit karena ada yang berjualan bubur ayam atau semacamnya di pinggir jalan yang berdekatan dengan parkir liar tersebut. Lalu saya berjalan mengitari setengah  lingkaran Simpang Lima yang sangat luas itu. Pemandangan di kanan kiri sangatlah ramai seperti biasanya. Ada yang jogging, jalan-jalan, duduk-duduk, roller blade-an, ada tukang cilok, tukang minuman, dan ada juga yang sedang bermain sepeda. Akhirnya ketemu juga dengan Burhan dan Mas Tamam yang sedang enak memakan soto di tempat itu.

Walaupun kami dari Semarang Lair, kami tidak melulu tentang cari wanita saja. Karena banyak latar belakang orang-orang di Semarang Lair beda-beda, kita pun kadang saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman dan passion kita itu. Salah satunya Mas Tamam, beliau adalah seorang yang menyukai fotografi, kalau tidak salah pekerjaannya juga berkaitan dengan hobinya itu. Ketika sudah makan soto, kita akhirnya berjalan-jalan menikmati pemandangan pagi itu. Dalam perjalanan beliau mengajari saya tentang fotografi dari komposisi, tekstrur, rasio, dan sebagainya. Ya karena ada Burhan juga pembicaraan kita juga pastinya menyenggol dengan bahasan wanita atau tips-tips percintaan yang baik dan benar.

Selama asyik mengobrol dalam perjalanan mau menuju Jl. Pahlawan, kita berhenti karena sesuatu. Saat itu ada sekelompok bule yang sedang memegang baner panjang tertulis selamatkan tanaman bakau. Lalu saya menemukan wajah yang tidak asing bagi saya. Saya sepertinya pernah bertemu dengan bule ini, waktu itu pernah bertemu di Pizza Hut waktu acara ulang tahunnya temannya Widi. Langsung saja saya sapa ke dia "Lizane?", dia bilang "No, I am....", waktu itu saya lupa namanya dia. Dari kenalan itu saya mencoba mengenali semua bule-bule yang ada di sebelahnya. Awalnya saya berpikir hanya orang eropa saja yang ikut proyek tanam bakau ini, ternyata TIDAK!

Tiba-tiba sesuatu yang membuat senang kegirangan dalam hati muncul. Ada seorang gadis berkulit putih yang sangat lucu, manis, dan cantik. Dia mengenakan topi bundar berwarna biru, baju merah, celana panjang hitam, dan memakai pelindung lengan yang lucu seperti panda. Matanya terlihat seperti hitam semua karena sipit, rambutnya dikuncir, dan giginya gingsul lucu sekali.

Saya langsung menyapa dengan "Where do you come from?", dia membalas "I am from Japan!". Dalam hati, gila beneran nih orang Jepang, ngapain dia ke sini, mimpi apa ya saya kemarin. Seketika saya ingin mengenalnya lebih jauh. Kemudian terjadilah percakapan antara kami berdua.

Saya : "Wow, from Japan?! What is your name?"

Rina : "My name is Rina"

Saya : "Oh like an Indonesian name, my name is Ricky Raharjo"

Rina : "Ri-ki ra-ha-??"

Saya : "Ri-ki ra-ha-ra-ju", saya bilang saja begitu, saya lupa kalau orang Jepang bisa bilang Jo.

Saya : "And how about you?", saya menengok di sampingnya Rina ada temannya yang Jepang juga.

Kaori : "I am Kaori, nice to meet you"

Saya : "Nice to meet you too"

Saya : "What are you doing with that things?"

Rina : "Oh there is a project to plant mangrove"

Saya : "Oh I see, by the way how old are you, age, you know?", kata teman sih tidak boleh menanyakan umur dengan orang yang baru kenal.

Rina : "Umur saya dua puluh satu, twenty one!", tidak menyangka dia membalasnya dengan riang malahan.

Saya : "Oh hoho, you can speak Indonesian too?"

Rina : "Just a little, hehe, and you?"

Saya : "I am uh.., twenty two! Dua puluh dua!", pinginnya sih bisa balas bahasa Jepang tapi karena saya masih dalam kondisi lagi seneng kadang lupa.

Rina : "Are you study on college?"

Saya : "Yes, but I just graduated last year, is an accountant"

Rina : "That's good"

Saya : "Anyway do you know about movie "Trainman Densha-Otoko"?"

Rina : "Hm.. I don't really remember, sorry...."

Saya : "That my inspirational movie, that make me transform to better people"

Rina : "Sokka (Oh begitu)", lucu sekali mukanya waktu bilang itu.

Saya : "Do you know 2chan?"

Rina : "What two.. chan??"

Kaori : "Hey, I know that", lalu Kaori memberitahukan itu kepada Rina dengan bahasa Jepang.

Saya : "That's a website is used by a Trainman to have encouragement from anonymous in Akihabara, I really want to make website like that in Indonesia but I think it's very difficult"

Rina : "Ohh..., that's great, hey Ricky do you ever been to Japan?"

Saya : "No, but I really want to go there!"

Rina : "I hope you can be there, hihi", hanya sedikit kata namun banyak arti bagi saya, di saat itu semua yang ada di sekitar saya dan Rina menjadi sangat lamban atau slow motion. Dalam hati saya berpikir sepertinya saya jatuh cinta lagi. Perasaan yang seperti ini muncul kembali.

Saya : "Of course!", dengan semangat saya menjawab itu.

Anak-anak : "Koniciwa, koniciwa, arigatou, arigatou!", tiba-tiba ada anak kecil yang sedang bermain roller blade mendekati kami dan berkata jepang-jepang gitu.

Rina : "Are these little children can speak Japanese?"

Saya : "Uh, I don't think.., isn't that sugoi?"

Rina : "No, not sugoi", sepertinya saya salah ngomong.

Saya : "So, where do you live in Japan?"

Rina : "Do you know Kyoto?"

Saya : "I ever heard that"

Rina : "That's where I lived, is very good in there"

Saya : "Yes, I really like Japan especially the movies, do you know Summer Time Machine Blues?"

Rina : "Sa-mu-ro Tai-mu Ma-sinu Bu-Rus?, I don't know"

Saya : "Heavenly Forest?"

Rina : "He-e-ve-niru-fo-res-to?, hmm I don't know", saya lupa karena dia orang Jepang kalau versi Jepangnya itu judulnya "Tada, Kimi wo Aishiteru" yang artinya "I love You, Only".

Saya : "How about Solanin"

Rina : "Aahhh! I know Solanin", akhirnya ada yang tahu juga.
  
Saya : "Phew, finally, It's very great movie of life, do you think so?"

Rina : "Yes, very good, do you know the star"

Saya : "Oh I forgot, but she playing at Heavenly Forest too..."

Rina : "Sokka (Oh begitu)", Ya Allah gemesin banget mukanya waktu bilang itu lagi.

Saya : "Hey do you want to go with me?", saya tiba-tiba saja bilang begitu dengan alasan yang tidak jelas namun saya merasa ingin bilang itu sekali, seperti ada dorongan khusus.

Rina : "Hm..., I think...", belum selesai bicara tiba-tiba ada suara masuk.

Orang IIWC : "No, you can't take Rina go with you, because she have full schedule on this week!", dengan irama tidak terima atau semacamnya.

Rina : "Yeah, right...", tapi matanya masih terpaku dengan mata saya, kita tidak terlalu mempedulikan kata-kata orang IIWC itu.

Saya : "Can I add your FB?"

Rina : "Just write Rina Asakura", terdengar seperti itu.

Saya : "Oh wow, there is so much result of Rina Asakura, which one are you?", sambil memperilhatkan HP.

Rina : "Yeah that's the above"

Kami tidak sadar bahwa orang-orang IIWC-nya sudah bergerak menuju Jl.Pahlawan melanjutkan aksi kampanye tanam bakaunya. Akibat saya ngobrol dengan Rina agak terlalu lama, sekarang dia berada pada posisi paling belakang dan hampir ditinggalkan oleh grupnya. Saya mencoba berfoto dengan Rina sebelum kembali ke grupnya itu.

Saya : "Hey, look at this phone, say cheese"

Rina : "Cheese!"

Saya : "Wow, is only your face, haha"

Rina : "What, haha"



Saya : "Misi mas, boleh minta fotoin kita?", saya minta tolong kepada orang IIWC yang memotong pembicaraan tadi.

Saya dan Rina : "Peaaceee", saya agak ragu memegang dia, saya hanya memegang tasnya waktu itu.


Dari situ saya sudah berhenti berdiri, sambil melihat Rina pelan-pelan tenggelam dalam keramaian Car Free Day. Dalam hati berkata saya ingin bertemu dengannya lagi. Lagian juga saya sudah mendapat alamat Facebook-nya waktu itu. Dengan bermodalkan informasi IIWC dan Facebook-nya Rina mungkin saya bisa bertemu lagi!

- To be continued -

Kamis, 21 Maret 2013

Diskusi Film "Jakarta Hati"

Sambil mengembangkan bisnis, hari itu saya sedang bermain dengan komunitas film USM Canopus. Selain bersenang-senang saya juga ingin lebih dekat dengan mereka.

Pagi itu, saya sedang bersih-bersih rumah. Dari menyapu lantai, merapikan kabel komputer, sampai membenahi sprei yang berantakan saya kerjakan sendiri. Hal yang terkecil pun saya bersihkan, monitor, menata peralatan seperti kunci, dompet, buku, dan pulpen.

Selasa, 19 Februari 2013

Kenyataan Bukan Rayuan

Saya ingat kejadian menarik setelah saya lulus dari program studi D3 Akuntansi. Waktu itu sedang ada pembekalan sebelum hari wisuda, di situ saya berkenalan gadis yang saya suka dari fisiknya. Awalnya saya tidak yakin akan berkenalan dengan gadis yang cantik dan seksi seperti itu. Saya bahkan lupa kenapa waktu itu mengalir saja ingin bertanya kepadanya. Dia sedang menerima telpon dan keluar dari ruangan pembekalan. Saya sapa saja, tanya tadi kenapa, dan lain-lain. Setelah tidak ada pembicaraan atau topik lagi, saya langsung beranjak menuju parkiran untuk pulang.

Ketika sudah sampai di parkiran, saya terkejut. Ada yang memanggil saya dari kejauhan, oh ternyata gadis tadi. Gadis itu bernama Prima. Namanya sama dengan nama sahabat laki-laki saya, namanya juga Prima. Saya tanya ada apa, dan ngobrol sebentar. Setelah selesai berbincang-bincang dengan dia, Prima meminta nomor handphone saya jika nanti ada apa-apa bisa berkomunikasi.

Tidak jauh dari situ, ada gadis yang menghampiri saya. Ternyata itu adalah Ratna, gadis yang saya suka karena sifatnya baik sekali dari gadis-gadis lainnya. Di mata saya dia mempunyai kelebihan fisik dan karakter yang sempurna. Dia selalu perhatian dengan saya, bahkan itu menurut saya lebih dari perhatian, dan tidak sekedar ingin cari-cari perhatian. Hingga sekarang ini, saya kangen untuk bertemu dengannya lagi. Kita hanya sekali makan bareng di Mie Ayam Pak Rie. Kita adalah penggemar Mie Ayam Pak Rie tersebut, jadi sama-sama suka. Salah satu bentuk kebaikannya adalah saya waktu itu dibayari Mie Ayam, jika tidak dia menakut-nakuti saya untuk dia yang tetap bayar. Selalu begitu Ratna itu hehe (^^). Kalau misalnya dia perlu bantuan lagi, saya pasti akan membantu, tapi karena keadaan tidak satu kampus lagi, membuat saya jarang bertemu dengannya lagi. Banyak kebaikan-kebaikan darinya, hingga waktu dulu pernah saya tweet tentang komitmen saya yang berbunyi "Tidak di blog, melainkan di hatiku", karena jika diceritakan banyak kisah tentang dirinya dan diriku.

Waktu itu Ratna ingin diantar pulang ke rumahnya dengan menebeng di motor saya. Sayangnya waktu itu saya sudah dengan Sidik, teman baik saya. Setelah meminta maaf, dia pergi menuju keluar gedung, dan di situ ada laki-laki yang sudah siap dengan motornya. Ternyata benar dia bersama dengan laki-laki itu. Hati saya agak tidak terima juga, kenapa tadi tidak saya antar aja ya.

Setelah lulus dari FEUNDIP pun, anehnya saya malah berteman dekat dengan Prima. Melamar kerja bareng, kursus bisnis online bareng, dulu juga pernah sekali foto-foto bareng dengannya. Setelah itu pun hubungan kami sudah agak longgar lagi, karena Prima sudah mempunyai pekerjaan. Saya pun berpikir saya hanya bisa menjadikan Prima hanya sebagai teman, karena banyak faktor. Salah satunya adalah dia sendiri sudah tunangan.

Cerita-cerita tentang gadis-gadis yang saya temui dari Pribumi atau pun luar negeri, semuanya masuk dan keluar dalam kehidupan saya begitu saja. Seperti kesenangan sesaat.

Kemarin saya diajak dengan Yopi. Dia ingin mengajak saya menonton Rectoverso bersama temannya juga. Yopi memberi atau menambahi saya uang sebesar Rp 15.000,- agar saya tetap menonton film itu. Ternyata isinya adalah tentang Cinta Yang Tak Terucap. Saya menangis menonton itu, karena saya membayangkan bagaimana ya jika 'dia' yang begitu. Saya ingin mencoba mencinta lagi berdasar kenyataan bukan rayuan.

Kamis, 14 Februari 2013

“Sweetest Bom Ever!”



Bagaimana jadinya kalau seorang laki-laki yang cupu tapi smart dan maniak film ini jatuh cinta dengan seorang gadis yang elegan, polos, dan suka membuat kue. Laki-laki itu belum bisa mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis semenjak dia mengidap sindrom maniak film, dan kadang-kadang itu membuat masalah dengan teman-teman atau orang-orang di sekitarnya. Kadang ada yang memaklumi, kadang juga yang membalas dengan kekerasan fisik.

Awalnya laki-laki itu sedang asyik bergaul dengan teman sepermainannya, mereka sedang ngobrolin tentang film action, saat dia bercerita tentang film itu dengan temannya, gadis yang diceritakan dalam film muncul dalam kenyataan. Dia sama persis di film itu, yang sedang berjalan di dekatnya.  Gadis itu berbaju kuning, membawa sebuah kotak kue, dan di situlah laki-laki itu langsung menghampirinya, dan langsung bersikap layaknya seperti tokoh utama polisi dalam film. Dia langsung mengamankan kotak itu layaknya Sherlock Holmes yang mengamankan kotak bom itu di tempat sampah. Lalu laki-laki itu menutup kuping sambil menunggu suara ledakan. Tapi tak terdengar apa-apa, si laki-laki tetap dengan sifat maniak filmnya, dia hanya bilang “Ternyata aku salah menduga, maaf nona aku kira anda adalah suruhan Profesor Moriarty, permisi”. Setelah itu dia langsung lari menjauhi gadis itu. Ada sesuatu yang terjatuh dari saku laki-laki itu. Gadis itu hanya heran dan terdiam, agak penasaran dengan laki-laki itu.

Malam harinya gadis itu mendapat telpon dari laki-laki itu, dengan suara dalam dan rendah layaknya mafia-mafia, dia bilang “(nama gadis)..?”. Gadis itu kebingungan, lalu dia tanya karena masih penasaran ingin mengetahui siapa yang menelponnya. Dia bilang “Jika ingin kue anda kembali, datang ke Cafe Coklat pukul 4 sore, jangan bawa siapapun”. Gadis itu agak tersenyum mendengar itu. Ketika gadis itu bilang ”Baiklah”, telepon langsung terputus.

Ketika sudah sampai di Cafe Coklat. Agak aneh ketika sedang pendekatan, si gadis sebenarnya suka tipe laki-laki yang seperti itu. Setelah duduk berhadapan, wanita itu butuh penjelasan kenapa laki-laki itu membuang kotak kue beserta isinya. Laki-laki itu hanya menjawab “Karena Profesor Moriarty tidak segan-segan menjadikan suruhannya sebagai senjata mematikan, sekalipun itu adalah jiwa yang harus dikorbankan”. Kemudian laki-laki itu melihat sekitar dulu apakah sudah aman atau tidak. Lalu dia menyerahkan kue sebagai permintaan maaf.

Setelah diberikan kue itu, kue itu langsung dibuka oleh gadis itu. Gadis itu bilang “Aku tidak perlu ucapan maaf kamu”. Tiba-tiba gadis itu memberi lilin di atas kue itu. Dengan bilang “Aku akan meledakkan kue ini, dengan lilin tipe L-111N, bom keluaran terbaru dari Negara X ini”. Sambil menyalakan korek. Si laki-laki itu mendadak bertingkah seperti penjinak bom, dan buru-buru meniup api lilin itu. Saking gemesnya gadis itu nimpuk wajah laki-laki itu dan berteriak “Happy Birthday!”. Dia langsung bilang dengan polosnya, “Ternyata ada juga ya bom yang rasanya manis”. “Kenapa kamu tahu tanggal ulang tahunku?” tanya laki-laki itu. Dengan lagaknya seperti pemain film gadis itu berkata “Harusnya kamu sudah dipecat dari FBI karena sudah kehilangan identitasmu” sambil memberikan kartu identitasnya. Laki-laki itu membalas dengan tetap memegang tangan si gadis “Jangan beritahukan siapa-siapa tentang hal ini ya?”. Gadis itu bingung, “Hal apa?”. Laki-laki itu berkata dengan dalam dan rendah “Bahwa sebenarnya aku suka kamu”.

-END-

-----------------------------------------------------

 Belum Ada Nama Tokoh
Berdasarkan Ide dan Konsep Film Pendek yang dipaksakan menjadi Cerita
Enjoy Guys!

By : Ricky Raharjo