""'>

Minggu, 31 Maret 2013

Finding Rina! - The Conclusion -

Awalnya saya antara malas dan tidak untuk menghampirinya, namun harus! Jadilah apa artinya perasaan itu? Bisa diartikan saya sedang bimbang atau bahasa kerennya GALAU! Ada perasaan grogi yang luar biasa sekali terjadi pada saya, padahal jarak masih jauh sekali. Saya memikirkan apa ya yang akan saya bilang nanti ya? Nanti kalau tidak suka bagaimana ya? Terus reaksi para IIWC ntar gimana ya? Apa saya tidak sopan tiba-tiba masuk dalam komunitas itu? Pikiran-pikiran itu terus bermunculan di kepala saya. Dengan masih memikirkan hal itu, motor tetap dengan kecepatan normal menuju tempat campsite tersebut. Seperti ada kekuatan cinta yang menggerakkan saya.

Merasa tersesat saya melihat print-print-an yang saya siapkan dari rumah. Menurut peta tersebut saya sudah melewati batas Desa Jatijajar namun belum ketemu juga mana tempat untuk masuk desanya. Kebingungan saya pun beristirahat dulu di Indomaret yang berada dekat dengan jalan raya. Saya membeli satu botol minuman segar untuk menghilangkan rasa haus saya. Kebetulan waktu itu ada gadis yang sedang menjaga toko aksesoris wanita yang sedang menganggur. Langsung saja tanyakan tentang Desa Jatijajar itu, waktu itu saya tidak menanyakan secara lengkap dia hanya bilang nanti kalau ada gapura masuk saja.  Ya sudah saya coba ke sana namun sesampainya di sana tidak ada tulisan Desa Jatijajar tersebut. Waktu itu saya berhenti sejenak dan memastikan lagi dengan peta buatan saya itu. Banyak pejalan kaki yang melewati saya dari berbagai arah. Saya pun mencoba bertanya dengan Bapak-bapak yang sedang lewat itu. Dia bilang bahwa tempatnya itu berada di depan Pabrik Coca-cola. Saya berpikir bukannya tadi depan Coca-cola itu tempat gadis yang berjualan aksesoris tersebut?

Kemudian saya menanyakan lagi tentang keberadaan tempat tersebut kepada gadis yang berjualan aksesoris itu. Sekarang dia menunjukkan arah yang tepat, saya tinggal mengikuti perintahnya saja. Saya pun mencoba berjalan pelan-pelan berlawanan arah, karena gapuranya ada di kanan jalan belokan pertama dari tempat gadis tadi. Dengan reding menyala ke kanan dan rasa hati-hati saya menelusuri jalan tersebut. Banyak bus dan angkot yang kadang-kadang berhenti di depan saya. Gapura yang dimaksud gadis tadi sudah kelihatan. Akhirnya saya bisa menemukan yang namanya Desa Jatijajar itu. Senang sekali seperti salah satu QUEST saya, sudah CLEARED. Tapi saya tidak bisa senang begitu saja karena misi yang lain masih menunggu.

Misi yang lain adalah bagaimana saya bisa menemukan Rina atau para member IIWC di tempat yang sangat luas ini. Saya dan motor Tiger saya pun memulai mencari tanpa bertanya-tanya dulu. Saya mencoba menghafalkan belokan-belokan yang ada di sepanjang jalan Desa itu. Untuk mempermudah saya mengambil ke arah kanan terus dan lurus agar mudah kembali ke gapuranya lagi. Tempatnya sangat sempit dan agak ramai penduduk. Setelah mentok dan tidak tahu harus ke mana lagi, saya bertanya pada penduduk setempat, apakah pernah melihat IIWC atau semacamnya dengan memperlihatkan foto.

Hari sudah mulai memasuki malam. Maghrib pun berkumandang, saya pun mencoba kembali ke depan gapura lagi. Ada Masjid yang sudah saya lewati di dekat gapura dan di situlah saya akan sholat maghrib. Ketika sholat saya berdoa kepada Allah SWT, tidak lupa sholawat yang diajarkan oleh Ustad Yusuf Mansyur. Setelah saya sholat saya melihat sekumpulan anak muda yang sepertinya sedang mencari sesuatu dengan tas ranselnya yang besar. Saya berpikir mungkin saja mereka adalah member IIWC. Saya pun mencoba bertanya darimana kah mereka? Ternyata mereka sedang mencari kos-kosan, dan tentu saja bukan IIWC.

Saya duduk di kursi bata yang ada di depan masjid sambil melihat foto Rina. Saya pun browsing facebooknya IIWC di hp Blackberry saya untuk mengetahui pasti kegiatan yang berlangsung saat itu. Sewaktu saya melihat-lihat foto IIWC, saya terpikirkan untuk memperlihatkannya kepada warga sekitar. Kebetulan waktu itu ada bapak-bapak yang duduk di dekat saya. Dengan nada perlahan saya bertanya kepada beliau dengan memperlihatkan foto IIWC itu. Setelah bertanya bapak ini menanyakan lagi ke bapak-bapak yang lainnya. Beliau tahu tapi tidak tahu lokasinya, dia menyuruh saya untuk pergi di toko pojokkan itu yang ada di pertigaan jalan.

Berbekal informasi yang saya dapat saya pun mendatangi toko kelontong itu. Saya melihat penjualnya sedang sibuk melayani pembeli. Pembeli terus berdatangan dan saya jadi kesusahan untuk menanyakan tentang keberadaan campsite IIWC. Sekitar 20 menit, pembeli masih berdatangan juga namun sekarang lumayan sepi. Waktu pembelinya hanya satu, saya langsung saja dekatin si penjualnya. Setelah pembelinya yang itu sudah beli, saya pun bertanya tentang keberadaan lokasinya. Beliau memberitahu patokan dan arah menuju ke sananya, namun beliau bilang bahwa rumah yang dituju itu hanya persinggahan sebentar bagi para member IIWC. Penjual itu sepertinya sedang sibuk, saya jadi tidak enak jika memintanya untuk mengantar dan menunjukkan lokasinya.

Saya merasa putus asa waktu itu karena situasi dan kondisi saat itu. Saya pun meratapi nasib saya di dudukan motor Tiger, sambil terus membaca sholawat berharap diberi kemudahan oleh-Nya. Ketika saya sedang sholawat, ada laki-laki sudah kebapakan menghampiri saya. Awalnya saya takut, kemudian dia tanya, "Mas lagi cari IIWC ya?". Saya balas saja "Iya, tahu lokasinya di mana mas?". Dia menjawab dengan murah senyum, "Wah saya tidak tahu mas, tapi mungkin mas bisa saya bantu ke tempat yang biasanya mereka kunjungi?". "Wah, beneran mas, boleh mas?", jawab saya dengan terkejut. "Boleh, mending mas ikutin saya saja dari belakang ya", dalam hati baik banget ya bapak ini. Kemudian beliau langsung men-start mesin motornya lalu berangkat, dan saya pastinya mengikutinya dari belakang.

Sekitar 2-3 menit tibalah kami di suatu rumah yang di mana terasnya ada undak-undakkannya, jadi rumahnya harus dicapai dengan mendaki maksudku melewati pijakan ke atas itu. Saya agak canggung karena bapak yang tadi terlalu baik, soalnya waktu itu dia langsung mengetuk itu pintu dan memanggilkan pemilik rumah tersebut. Ada 2 sosok bapak-bapak dan ibu-ibu muncul dari rumah itu dan menanyakan kepada saya, "Ada keperluan apa anda datang ke sini?". Bapak yang baik yang saya kenal waktu awal menjelaskan bahwa dia ingin bertemu dengan member IIWC dari Jepang. Saya pun tanpa ragu menanyakan keberadaan Rina, "Jadi kamu mau bertemu dengan gadis yang di foto ini?". Saya pun menjawab "Iya Pak!", bapak yang baik hati tadi nyeletuk "Mau dipek bojo ya mas, hehe?", yang artinya mau diambil istri ya mas. Ya saya hanya senyum dan iya-iya saja deh hehe (^^).

Kemudian bapak dan ibu itu meminta saya untuk menunggunya di dalam, karena nanti yang menunjukkan jalannya adalah anaknya yang sekarang belum pulang kerja. Ibu itu menghidangkan teh untuk saya, dan bapak itu mempersilakan untuk meminumnya, baik sekali memang warga di situ. Saya di situ banyak tahu tentang IIWC yang sudah pernah singgah di rumah ini. Tidak lupa saya menanyakan tentang Rina, dan mereka sepertinya pernah melihat. "Ini ndak Yuka?", tanya bapak itu, saya balas saja "Bukan". "Oh, mirip Yuka ya..", kemudian beliau memperlihatkan foto kenangan bersama IIWC yang di situnya ada Yuka. Memang agak mirip sih, salah satunya warna kulitnya sama, yaitu putih. Mereka cerita tentang cara mereka bertahan karena lapar, berbahasa, dan pokoknya semua hal tentang adaptasi.

Setelah berbincang agak lama, anaknya yang baru pulang kerja datang ke rumah. Dengan masih memakai jaket dia langsung mengajak saya ke tempat IIWC. Sebelumnya dia sudah biasa mengantar orang yang mau ke tempat IIWC. Makanya jika ada orang yang mau bertemu karena urusan sesuatu, dia pasti akan membantu.

Tempat yang kita tuju adalah Tegalrejo. Tegalrejo adalah salah satu tempat prostitusi yang berada jauh dari pusat kota Semarang dan tempatnya tidak jauh dari Desa Jatijajar. Dan disitulah, saya akan bertemu dengan member IIWC yang dari Jepang. Awal masuk saya agak canggung apakah harus bayar atau tidak, namun untungnya mas yang ngantar saya sudah kenal dengan yang jaga, jadi saya bisa memasukinya dengan gratis dan aman.

Saya melihat tidak terlalu banyak pemandangan erotic, hanya melihat 1-2 pekerja sex komersial dan suara-suara karaoke yang keras, saya berpikir mungkin mereka bersenang-senangnya di dalam rumah. Masnya yang mengantar saya masuk ke gang sempit, dan tidak jauh dari situ dia berhenti. Kemudian dia bilang kepada saya, "Kita sudah sampai Mas, Mas udah dikunci motornya?". "Sudah Mas", jawab saya. "Tunggu di sini sebentar", tegas Masnya. Lalu dia langsung pergi ke tempat paling pojok rumah yang berada di jalan buntu itu. Terlihat Masnya sedang berkomunikasi dengan orang yang di dalam rumah itu. Tidak lama dari itu saya disuruh ke sana, dan masnya pamit pulang ke saya, tidak lupa saya berterima kasih dengan masnya.

Saya jalan pelan-pelan menuju rumah itu. Ada laki-laki bertato seperti preman yang sedang duduk di kursi sofa depan rumah-rumah di jalan yang sempit itu. Saya agak takut untuk melangkah, tapi setelah saya bilang permisi, reaksi laki-laki bertato itu ramah sekali, dia mempersilakan lewat dengan keterbukaan hati dan senyuman. Sekitar 2 meter dari rumah yang dimaksud, saya mendengar suara orang-orang Jepang bergumam seperi "Nani?", "Dare?", dengan nada sedikit bingung.

Tibalah saya di rumah itu disambut oleh Mbak Dita atau Gita saya lupa. Dia adalah ketua IIWC dalam proyek tersebut. Badannya gemuk, pakai kaca mata, rambut keriting, pipi cubi, dan pastinya memakai seragam IIWC yang merah itu. Keadaan ramai sekali dalam rumah sempit. Di dalamnya itu saya melihat orang-orang Jepang sedang bersenda gurau dengan bahasa Jepangnya. Tapi ada yang aneh. Saya mencoba menanyakan langsung kepada mbaknya dengan memperlihatkan foto yang ada di HP saya, apakah pernah melihat Rina. Setelah dia melihat, dia menjawab, "Aku kurang tahu mas, ini mungkin proyek yang satunya yang di mangkang". Terus karena saya mengenal Taufik tapi belum bertemu dengannya, saya mencoba ingin bertemu dengannya dengan tanya kepada mbaknya itu.

Akhirnya dipanggilkanlah Mas Taufik. Dia agak bingung dengan saya, karena baru ketemu tiba-tiba ketemunya di tempat Camp. Dia agak canggung, kaget, dan agak tidak percaya. "Kamu bisa ke sini gimana ceritanya?", tanya Mas Taufik. "Oh tadi dibantu orang dari Desa Jatijijar Mas. Ngomong-ngomong tahu Rina ga Mas?", tanya saya dengan memperlihatkan foto Rina di HP saya. "Oh ini, dulu pernah ketemu sih, udah lama, kayaknya udah pulang deh Mas", jawab Mas Taufik. "Iya sepertinya juga begitu Mas, coba saya panggilkan ketua yang dari Jepang dulu, Kayoooooo!", tegas Mbak Gita.

Kemudian saya dihadapkan dengan wanita yang energik dari negara Jepang namanya Kayo. Dia mempunyai rambut yang pendek, dan sepertinya dia suka senyum riang. Terus saya tanya dengan bahasa Inggris, "Do you ever meet Rina?". "Hmmm, Rina...?", diperhatikan foto itu dengan seksama oleh Kayo. "I think you ever meet Rina, when the first time she come in Indonesia", tanya Mas Taufik kepada Kayo. "I am sorry, I think I couldn't help", jawab Kayo. Tiba-tiba ada orang Jepang yang mau masuk bertemu dengan saya, gadis Jepang yang rambutnya pendek dan disemir emas. "Hai! My name is Ayaka! Nice to meet you!", dengan semangat dia menyapa. "I am Ricky, nice too meet you too! Do you have Indonesian name?", tanya saya agak bercanda. "Indonesian name, I don't hehe, should I?", tanya dia kebingungan. "Yeah of course! Hehe", jawab saya agak gaje.

Waktu itu saya ingin dihibur namun melihat masih pada sibuk saya pun pamit pulang kepada mereka. "Terimakasih mas, mbak, Kayo, sampai jumpa lagi, ja mata ashita!", Kayo membalas "Ja!". Saya pun pulang mengendarai Tiger saya, dengan diiringi cuaca hujan menambah kegalauan saya. Dalam perjalanan saya agak kecewa, sedih karena tidak ketemu juga dan sempat meneteskan air mata. Nasib barang kenang-kenanganku untuk Rina masih ada dalam tas.


 - Barang kenangan kondisi saat ini -

Setelah 2 atau 3 bulan terlewati, saya melihat video dari IIWC. Di video itu ada Rina! Saya pun langsung mencari info tentang itu, saya mencoba mencari-cari dan ternyata.... Ternyata Rina sudah memiliki pacar di Facebooknya, dan nama Facebooknya Rina Sakakura bukan Rina Asakura. Terjawab sudah semua kegalauan ini. Saya sedih, sesedihnya, karena dia, saya bisa melupakan mantan gebetan saya. Saya pun bisa tidak ingat ternyata waktu saya bertemu Rina, itu bertepatan dengan ulang tahunnya mantan gebetan saya. Karena Rina saya bisa move-on seperti itu. Saya add pun sampai sekarang ini belum diapprove juga oleh Rina. Mungkin saya salah mengartikan itu semua, perasaan saya itu hanya "SEPIHAK".

- End -

Selasa, 26 Maret 2013

Finding Rina! - The Preparation -

Setibanya di rumah, masih terngiang-ngiang wajah wanita Jepang itu. Terima kasih Ya Allah telah mempertemukan saya dengan Rina. Hanya dengan berbekal informasi yang secukupnya, saya langsung menghidupkan komputer untuk browsing. Mulai dari facebook saya searching nama Rina Asakura. Banyak sekali nama Rina Asakura-nya. Anehnya saya tidak melihat muka si Rina yang saya tahu itu. Saya melihat ada yang namanya Rina yang fotonya itu berada di Bali, karena ada kotak-kotak hitam putih begitu. Lalu saya add friend dan mengirimkan pesan saja kepada Rina itu. Pesan singkat yang saya tulis itu adalah "Do you remember me Rina?".

Waktu saya membuka Facebook, saya melihat ada acara yang akan datang. Di situ tertulis acara hunting foto bareng bersama komunitas PROLOG dan dimulai besok dari siang sampai sore di Watu Gong. Sebelum hari esok saya entah kenapa ingin memberikan sesuatu kenang-kenangan untuk Rina. Saya mengeprint hasil foto waktu kita foto bersama di Simpang Lima, lalu saya laminatingkan di fotocopyan agar terlihat rapi. Karena merasa kurang lengkap saya membelikan tas kardus bermotif batik untuk saya masukkan kenang-kenangan itu. Saya pun menuliskannya pesan dengan satu sobekan kertas yang berisikan "You are the most amazing girl I ever met", di bawahnya saya kasih terjemahan Jepangnya dengan google translate. Kertas itu pun saya masukkan juga ke dalamnya.

Hari hunting foto pun tiba, dan yang datang hanya lima orang saja. Waktu itu teman saya Sena kasihan sekali, kamera satu-satunya yang dia beli dari ebay, RUSAK! Dia adalah salah satu anggota dari komunitas IIWC juga. Sena pernah masuk di komunitas manapun, Semarang Lair, IIWC, Airsoftgun, dan lain-lain. Berikut adalah foto Sena waktu saya ambil gambarnya menggunakan kamera Fisheye No.2 saya.


Lihat tampangnya, sepertinya dia sedang bersedih melihat arwah kameranya melayang ke angkasa. Hunting pun berjalan lancar karena cuacanya cerah. Hari sudah mulai gelap, kami pun tidak langsung pulang ke rumah. Waktu itu kami nongkrong dulu di Brada, salah satu cafe yang terletak di Tembalang. Cafe ini terkenal dengan hidangan leker dan tehnya, namun menu-menu lainnya juga tidak kalah nikmatnya.

Saya dan teman-teman Prolog membicarakan acara selanjutnya, kamera, hasil foto, dan kadang bahas lainnya. Karena Sena adalah salah satu anggota IIWC saya pun jadi ingin bertanya mengenai orang-orang IIWC itu. Banyak hal yang saya tahu, dia memberitahukan saya hal yang penting, bahwa jika saya mendatangi tempat Campsite-nya kamu tidak akan diizinkan masuk begitu saja. Sebelum hunting foto pun saya sudah mengutak-atik website IIWC tersebut, bahwa tempat Campsite-nya juga ada banyak, tapi Sena pun juga sepertinya belum pernah ikut tapi dia tahu karena dengar dari teman IIWC-nya.

Malamnya saya belum juga diapprove oleh Rina. Sepertinya ada yang aneh. Saya pun langsung berlanjut untuk searching lokasi dan jadwal yang menurut saya Rina ada di situ. Di situ tertulis bahwa Tegalrejo lah yang nantinya yang akan saya datangi. Saya pun waktu itu online Facebook juga, saya add semua orang-orang yang berkaitan dengan IIWC. Kebetulan ada satu orang namanya Taufiq, dan waktu chat dia sedang melakukan proyeknya di Tegalrejo, dan sekarang masih di Desa Jatijajarnya dekat situ.

Sebelum ke tempat itu, saya ingin tanya-tanya langsung kepada IIWC nya. Besok siangnya saya diantar oleh Sena menuju ke pusat organisasi tersebut ditemani teman saya Kang Saef. Sesampainya di sana kami pun basa-basi dulu. Waktu itu kami bertemu Mas Haniv dan Mas Tain di kantornya. Mas Haniv, orangnya baik hati dan ramah. Kalau Tain menurut saya mungkin dia sudah baca e-mail saya tentang apakah dia kenal Rina atau tidak, entah kenapa dia tidak melihat mata saya waktu menjelaskan tentang IIWC. Ya memang detail sih memberikan infonya namun saya tidak terima saja dengan caranya berkomunikasi. Kang Saef pun merasa begitu, tapi dia ingin bergabung juga, namun sayang waktu itu saya tidak memiliki uang cukup untuk bergabung, mungkin lain kali. Setelah basa-basi saya pun mencoba menanyakan keberadaan Rina, tapi tidak terlalu jelas di mana. Saya pun bertanya apakah boleh mengikuti proyek yang sedang berjalan? Jawabannya adalah tidak boleh. Tidak lama setelah itu kami tidak jadi mendaftar dan pulang.

Malamnya saya sudah galau dan ingin sekali bertemu dengan Rina lagi. Jika ini jodoh saya, saya harus melakukan yang terbaik. Bahkan saya mempunyai impian bahwa saya mempunyai wanita Jepang dan dia Islam. Saya mencoba memotivasi diri sendiri dan mengembalikan kekuatan, langsung saja saya google map tempat-tempat itu dan kemudian saya keluar untuk mengeprint peta Desa Jatijajar dan Tegalrejo itu. Karena itulah kemungkinan banyak orang-orang Jepangnya dan semoga ada Rina di situ.




Waktu itu saya ada acara untuk melamar pekerjaan di Jakarta selama tiga hari dan berakhir hari Jumat. Nah, Sabtu sorenya saya akan mencoba mencari Campsite itu. Dengan hanya bermodalkan peta dari google map, foto Rina, dan tidak lupa barang yang ingin saya kasih untuk dia, saya akan mencoba mencarinya hari itu juga.

- To be continued -

Minggu, 24 Maret 2013

Finding Rina! - The Meeting -

Saya dulu pernah janji mau bercerita tentang bagaimana saya bisa menyebut Rina itu special. Kemarin saya sedang ngobrol dengan seseorang dari IIWC namanya Agustin, saya dipersilakan memanggilnya dengan "Tintin". Kita ngechat seperti biasanya tiap malam, ngobrolin apa saja dan kadang curhat tentang kegiatan akhir-akhir ini. Tintin memancing saya untuk curhat waktu itu. Mungkin ini agak awkward tapi dia mau tahu saja kenapa dia melihat di kotak chatingannya seperti saya mau menulis sesuatu tapi tidak jadi.

Tampilan chat Tintin kepada saya, waktu itu di kotak chat saya tertulis : "kl tya lihat, sering sekali mau ngetik tapi nggak jadi//"

Padahal saya sendiri tidak menulis apa-apa, ya saya berpikir, mungkin ini saatnya dia tahu kenapa saya bisa add friend dia atau bagaimana. Kenapa bisa begitu, saya akhirnya bercerita tentang Rina kepada Tintin. Tujuan saya agar Tintin tahu saja tidak lebih, karena saya juga tidak ingin dia berpikir macam-macam tentang saya. Saya ingin bercerita saja.

Cerita berawal ketika saya sedang menikmati Minggu pagi di Simpang Lima bersama 2 teman Semarang Lair saya, yaitu ada Mas Tamam dan Burhan. Tiap minggu adalah harinya bebas mobil bagi kota Semarang. Selalu diadakan rutin tiap hari Minggu di Simpang Lima dan sepanjang Jalan Pahlawan. Dalam bahasa kerennya itu disebut "Car Free Day", tapi saya menyebutnya CFD saja supaya lebih singkat padat dan tidak jelas, kalau ingin tahu kepanjangannya, ya tanya!

Karena dulu sempat CFD dengan teman saya Widi, saya sekarang tahu tempat parkir yang enak dan murah. Tempat parkirnya di pertigaan belakang Kantor Pos Indonesia, dekat dengan warung-warung makanan seperti bubur ayam, sate, soto, dan cakwe. Bau makanan itu selalu menggoda saya untuk membelinya, namun saya harus tahan karena saya hanya memiliki seribu duaribu di dompet saya, berusaha agar uangnya cukup untuk membayar parkir dan bertahan untuk pulang ke rumah nantinya. Ibu yang menjaga parkirnya baik sekali, tapi dia tidak bisa membenahi barisan parkiran, saya maklumi saja agar lebih enak kalau parkir di situ.

Dari parkiran itu saya mendapat sms bahwa Burhan sedang makan soto dengan Mas Tamam di depan Masjid Baiturahman. Setelah saya mendapat sms itu saya langsung berjalan untuk menemui mereka. Saya berjalan melewati parkiran liar di belakang gedung ACE Hardware. Kondisi tempat itu menjadi sangat sempit karena ada yang berjualan bubur ayam atau semacamnya di pinggir jalan yang berdekatan dengan parkir liar tersebut. Lalu saya berjalan mengitari setengah  lingkaran Simpang Lima yang sangat luas itu. Pemandangan di kanan kiri sangatlah ramai seperti biasanya. Ada yang jogging, jalan-jalan, duduk-duduk, roller blade-an, ada tukang cilok, tukang minuman, dan ada juga yang sedang bermain sepeda. Akhirnya ketemu juga dengan Burhan dan Mas Tamam yang sedang enak memakan soto di tempat itu.

Walaupun kami dari Semarang Lair, kami tidak melulu tentang cari wanita saja. Karena banyak latar belakang orang-orang di Semarang Lair beda-beda, kita pun kadang saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman dan passion kita itu. Salah satunya Mas Tamam, beliau adalah seorang yang menyukai fotografi, kalau tidak salah pekerjaannya juga berkaitan dengan hobinya itu. Ketika sudah makan soto, kita akhirnya berjalan-jalan menikmati pemandangan pagi itu. Dalam perjalanan beliau mengajari saya tentang fotografi dari komposisi, tekstrur, rasio, dan sebagainya. Ya karena ada Burhan juga pembicaraan kita juga pastinya menyenggol dengan bahasan wanita atau tips-tips percintaan yang baik dan benar.

Selama asyik mengobrol dalam perjalanan mau menuju Jl. Pahlawan, kita berhenti karena sesuatu. Saat itu ada sekelompok bule yang sedang memegang baner panjang tertulis selamatkan tanaman bakau. Lalu saya menemukan wajah yang tidak asing bagi saya. Saya sepertinya pernah bertemu dengan bule ini, waktu itu pernah bertemu di Pizza Hut waktu acara ulang tahunnya temannya Widi. Langsung saja saya sapa ke dia "Lizane?", dia bilang "No, I am....", waktu itu saya lupa namanya dia. Dari kenalan itu saya mencoba mengenali semua bule-bule yang ada di sebelahnya. Awalnya saya berpikir hanya orang eropa saja yang ikut proyek tanam bakau ini, ternyata TIDAK!

Tiba-tiba sesuatu yang membuat senang kegirangan dalam hati muncul. Ada seorang gadis berkulit putih yang sangat lucu, manis, dan cantik. Dia mengenakan topi bundar berwarna biru, baju merah, celana panjang hitam, dan memakai pelindung lengan yang lucu seperti panda. Matanya terlihat seperti hitam semua karena sipit, rambutnya dikuncir, dan giginya gingsul lucu sekali.

Saya langsung menyapa dengan "Where do you come from?", dia membalas "I am from Japan!". Dalam hati, gila beneran nih orang Jepang, ngapain dia ke sini, mimpi apa ya saya kemarin. Seketika saya ingin mengenalnya lebih jauh. Kemudian terjadilah percakapan antara kami berdua.

Saya : "Wow, from Japan?! What is your name?"

Rina : "My name is Rina"

Saya : "Oh like an Indonesian name, my name is Ricky Raharjo"

Rina : "Ri-ki ra-ha-??"

Saya : "Ri-ki ra-ha-ra-ju", saya bilang saja begitu, saya lupa kalau orang Jepang bisa bilang Jo.

Saya : "And how about you?", saya menengok di sampingnya Rina ada temannya yang Jepang juga.

Kaori : "I am Kaori, nice to meet you"

Saya : "Nice to meet you too"

Saya : "What are you doing with that things?"

Rina : "Oh there is a project to plant mangrove"

Saya : "Oh I see, by the way how old are you, age, you know?", kata teman sih tidak boleh menanyakan umur dengan orang yang baru kenal.

Rina : "Umur saya dua puluh satu, twenty one!", tidak menyangka dia membalasnya dengan riang malahan.

Saya : "Oh hoho, you can speak Indonesian too?"

Rina : "Just a little, hehe, and you?"

Saya : "I am uh.., twenty two! Dua puluh dua!", pinginnya sih bisa balas bahasa Jepang tapi karena saya masih dalam kondisi lagi seneng kadang lupa.

Rina : "Are you study on college?"

Saya : "Yes, but I just graduated last year, is an accountant"

Rina : "That's good"

Saya : "Anyway do you know about movie "Trainman Densha-Otoko"?"

Rina : "Hm.. I don't really remember, sorry...."

Saya : "That my inspirational movie, that make me transform to better people"

Rina : "Sokka (Oh begitu)", lucu sekali mukanya waktu bilang itu.

Saya : "Do you know 2chan?"

Rina : "What two.. chan??"

Kaori : "Hey, I know that", lalu Kaori memberitahukan itu kepada Rina dengan bahasa Jepang.

Saya : "That's a website is used by a Trainman to have encouragement from anonymous in Akihabara, I really want to make website like that in Indonesia but I think it's very difficult"

Rina : "Ohh..., that's great, hey Ricky do you ever been to Japan?"

Saya : "No, but I really want to go there!"

Rina : "I hope you can be there, hihi", hanya sedikit kata namun banyak arti bagi saya, di saat itu semua yang ada di sekitar saya dan Rina menjadi sangat lamban atau slow motion. Dalam hati saya berpikir sepertinya saya jatuh cinta lagi. Perasaan yang seperti ini muncul kembali.

Saya : "Of course!", dengan semangat saya menjawab itu.

Anak-anak : "Koniciwa, koniciwa, arigatou, arigatou!", tiba-tiba ada anak kecil yang sedang bermain roller blade mendekati kami dan berkata jepang-jepang gitu.

Rina : "Are these little children can speak Japanese?"

Saya : "Uh, I don't think.., isn't that sugoi?"

Rina : "No, not sugoi", sepertinya saya salah ngomong.

Saya : "So, where do you live in Japan?"

Rina : "Do you know Kyoto?"

Saya : "I ever heard that"

Rina : "That's where I lived, is very good in there"

Saya : "Yes, I really like Japan especially the movies, do you know Summer Time Machine Blues?"

Rina : "Sa-mu-ro Tai-mu Ma-sinu Bu-Rus?, I don't know"

Saya : "Heavenly Forest?"

Rina : "He-e-ve-niru-fo-res-to?, hmm I don't know", saya lupa karena dia orang Jepang kalau versi Jepangnya itu judulnya "Tada, Kimi wo Aishiteru" yang artinya "I love You, Only".

Saya : "How about Solanin"

Rina : "Aahhh! I know Solanin", akhirnya ada yang tahu juga.
  
Saya : "Phew, finally, It's very great movie of life, do you think so?"

Rina : "Yes, very good, do you know the star"

Saya : "Oh I forgot, but she playing at Heavenly Forest too..."

Rina : "Sokka (Oh begitu)", Ya Allah gemesin banget mukanya waktu bilang itu lagi.

Saya : "Hey do you want to go with me?", saya tiba-tiba saja bilang begitu dengan alasan yang tidak jelas namun saya merasa ingin bilang itu sekali, seperti ada dorongan khusus.

Rina : "Hm..., I think...", belum selesai bicara tiba-tiba ada suara masuk.

Orang IIWC : "No, you can't take Rina go with you, because she have full schedule on this week!", dengan irama tidak terima atau semacamnya.

Rina : "Yeah, right...", tapi matanya masih terpaku dengan mata saya, kita tidak terlalu mempedulikan kata-kata orang IIWC itu.

Saya : "Can I add your FB?"

Rina : "Just write Rina Asakura", terdengar seperti itu.

Saya : "Oh wow, there is so much result of Rina Asakura, which one are you?", sambil memperilhatkan HP.

Rina : "Yeah that's the above"

Kami tidak sadar bahwa orang-orang IIWC-nya sudah bergerak menuju Jl.Pahlawan melanjutkan aksi kampanye tanam bakaunya. Akibat saya ngobrol dengan Rina agak terlalu lama, sekarang dia berada pada posisi paling belakang dan hampir ditinggalkan oleh grupnya. Saya mencoba berfoto dengan Rina sebelum kembali ke grupnya itu.

Saya : "Hey, look at this phone, say cheese"

Rina : "Cheese!"

Saya : "Wow, is only your face, haha"

Rina : "What, haha"



Saya : "Misi mas, boleh minta fotoin kita?", saya minta tolong kepada orang IIWC yang memotong pembicaraan tadi.

Saya dan Rina : "Peaaceee", saya agak ragu memegang dia, saya hanya memegang tasnya waktu itu.


Dari situ saya sudah berhenti berdiri, sambil melihat Rina pelan-pelan tenggelam dalam keramaian Car Free Day. Dalam hati berkata saya ingin bertemu dengannya lagi. Lagian juga saya sudah mendapat alamat Facebook-nya waktu itu. Dengan bermodalkan informasi IIWC dan Facebook-nya Rina mungkin saya bisa bertemu lagi!

- To be continued -

Kamis, 21 Maret 2013

Diskusi Film "Jakarta Hati"

Sambil mengembangkan bisnis, hari itu saya sedang bermain dengan komunitas film USM Canopus. Selain bersenang-senang saya juga ingin lebih dekat dengan mereka.

Pagi itu, saya sedang bersih-bersih rumah. Dari menyapu lantai, merapikan kabel komputer, sampai membenahi sprei yang berantakan saya kerjakan sendiri. Hal yang terkecil pun saya bersihkan, monitor, menata peralatan seperti kunci, dompet, buku, dan pulpen.

Selasa, 19 Februari 2013

Kenyataan Bukan Rayuan

Saya ingat kejadian menarik setelah saya lulus dari program studi D3 Akuntansi. Waktu itu sedang ada pembekalan sebelum hari wisuda, di situ saya berkenalan gadis yang saya suka dari fisiknya. Awalnya saya tidak yakin akan berkenalan dengan gadis yang cantik dan seksi seperti itu. Saya bahkan lupa kenapa waktu itu mengalir saja ingin bertanya kepadanya. Dia sedang menerima telpon dan keluar dari ruangan pembekalan. Saya sapa saja, tanya tadi kenapa, dan lain-lain. Setelah tidak ada pembicaraan atau topik lagi, saya langsung beranjak menuju parkiran untuk pulang.

Ketika sudah sampai di parkiran, saya terkejut. Ada yang memanggil saya dari kejauhan, oh ternyata gadis tadi. Gadis itu bernama Prima. Namanya sama dengan nama sahabat laki-laki saya, namanya juga Prima. Saya tanya ada apa, dan ngobrol sebentar. Setelah selesai berbincang-bincang dengan dia, Prima meminta nomor handphone saya jika nanti ada apa-apa bisa berkomunikasi.

Tidak jauh dari situ, ada gadis yang menghampiri saya. Ternyata itu adalah Ratna, gadis yang saya suka karena sifatnya baik sekali dari gadis-gadis lainnya. Di mata saya dia mempunyai kelebihan fisik dan karakter yang sempurna. Dia selalu perhatian dengan saya, bahkan itu menurut saya lebih dari perhatian, dan tidak sekedar ingin cari-cari perhatian. Hingga sekarang ini, saya kangen untuk bertemu dengannya lagi. Kita hanya sekali makan bareng di Mie Ayam Pak Rie. Kita adalah penggemar Mie Ayam Pak Rie tersebut, jadi sama-sama suka. Salah satu bentuk kebaikannya adalah saya waktu itu dibayari Mie Ayam, jika tidak dia menakut-nakuti saya untuk dia yang tetap bayar. Selalu begitu Ratna itu hehe (^^). Kalau misalnya dia perlu bantuan lagi, saya pasti akan membantu, tapi karena keadaan tidak satu kampus lagi, membuat saya jarang bertemu dengannya lagi. Banyak kebaikan-kebaikan darinya, hingga waktu dulu pernah saya tweet tentang komitmen saya yang berbunyi "Tidak di blog, melainkan di hatiku", karena jika diceritakan banyak kisah tentang dirinya dan diriku.

Waktu itu Ratna ingin diantar pulang ke rumahnya dengan menebeng di motor saya. Sayangnya waktu itu saya sudah dengan Sidik, teman baik saya. Setelah meminta maaf, dia pergi menuju keluar gedung, dan di situ ada laki-laki yang sudah siap dengan motornya. Ternyata benar dia bersama dengan laki-laki itu. Hati saya agak tidak terima juga, kenapa tadi tidak saya antar aja ya.

Setelah lulus dari FEUNDIP pun, anehnya saya malah berteman dekat dengan Prima. Melamar kerja bareng, kursus bisnis online bareng, dulu juga pernah sekali foto-foto bareng dengannya. Setelah itu pun hubungan kami sudah agak longgar lagi, karena Prima sudah mempunyai pekerjaan. Saya pun berpikir saya hanya bisa menjadikan Prima hanya sebagai teman, karena banyak faktor. Salah satunya adalah dia sendiri sudah tunangan.

Cerita-cerita tentang gadis-gadis yang saya temui dari Pribumi atau pun luar negeri, semuanya masuk dan keluar dalam kehidupan saya begitu saja. Seperti kesenangan sesaat.

Kemarin saya diajak dengan Yopi. Dia ingin mengajak saya menonton Rectoverso bersama temannya juga. Yopi memberi atau menambahi saya uang sebesar Rp 15.000,- agar saya tetap menonton film itu. Ternyata isinya adalah tentang Cinta Yang Tak Terucap. Saya menangis menonton itu, karena saya membayangkan bagaimana ya jika 'dia' yang begitu. Saya ingin mencoba mencinta lagi berdasar kenyataan bukan rayuan.

Kamis, 14 Februari 2013

“Sweetest Bom Ever!”



Bagaimana jadinya kalau seorang laki-laki yang cupu tapi smart dan maniak film ini jatuh cinta dengan seorang gadis yang elegan, polos, dan suka membuat kue. Laki-laki itu belum bisa mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis semenjak dia mengidap sindrom maniak film, dan kadang-kadang itu membuat masalah dengan teman-teman atau orang-orang di sekitarnya. Kadang ada yang memaklumi, kadang juga yang membalas dengan kekerasan fisik.

Awalnya laki-laki itu sedang asyik bergaul dengan teman sepermainannya, mereka sedang ngobrolin tentang film action, saat dia bercerita tentang film itu dengan temannya, gadis yang diceritakan dalam film muncul dalam kenyataan. Dia sama persis di film itu, yang sedang berjalan di dekatnya.  Gadis itu berbaju kuning, membawa sebuah kotak kue, dan di situlah laki-laki itu langsung menghampirinya, dan langsung bersikap layaknya seperti tokoh utama polisi dalam film. Dia langsung mengamankan kotak itu layaknya Sherlock Holmes yang mengamankan kotak bom itu di tempat sampah. Lalu laki-laki itu menutup kuping sambil menunggu suara ledakan. Tapi tak terdengar apa-apa, si laki-laki tetap dengan sifat maniak filmnya, dia hanya bilang “Ternyata aku salah menduga, maaf nona aku kira anda adalah suruhan Profesor Moriarty, permisi”. Setelah itu dia langsung lari menjauhi gadis itu. Ada sesuatu yang terjatuh dari saku laki-laki itu. Gadis itu hanya heran dan terdiam, agak penasaran dengan laki-laki itu.

Malam harinya gadis itu mendapat telpon dari laki-laki itu, dengan suara dalam dan rendah layaknya mafia-mafia, dia bilang “(nama gadis)..?”. Gadis itu kebingungan, lalu dia tanya karena masih penasaran ingin mengetahui siapa yang menelponnya. Dia bilang “Jika ingin kue anda kembali, datang ke Cafe Coklat pukul 4 sore, jangan bawa siapapun”. Gadis itu agak tersenyum mendengar itu. Ketika gadis itu bilang ”Baiklah”, telepon langsung terputus.

Ketika sudah sampai di Cafe Coklat. Agak aneh ketika sedang pendekatan, si gadis sebenarnya suka tipe laki-laki yang seperti itu. Setelah duduk berhadapan, wanita itu butuh penjelasan kenapa laki-laki itu membuang kotak kue beserta isinya. Laki-laki itu hanya menjawab “Karena Profesor Moriarty tidak segan-segan menjadikan suruhannya sebagai senjata mematikan, sekalipun itu adalah jiwa yang harus dikorbankan”. Kemudian laki-laki itu melihat sekitar dulu apakah sudah aman atau tidak. Lalu dia menyerahkan kue sebagai permintaan maaf.

Setelah diberikan kue itu, kue itu langsung dibuka oleh gadis itu. Gadis itu bilang “Aku tidak perlu ucapan maaf kamu”. Tiba-tiba gadis itu memberi lilin di atas kue itu. Dengan bilang “Aku akan meledakkan kue ini, dengan lilin tipe L-111N, bom keluaran terbaru dari Negara X ini”. Sambil menyalakan korek. Si laki-laki itu mendadak bertingkah seperti penjinak bom, dan buru-buru meniup api lilin itu. Saking gemesnya gadis itu nimpuk wajah laki-laki itu dan berteriak “Happy Birthday!”. Dia langsung bilang dengan polosnya, “Ternyata ada juga ya bom yang rasanya manis”. “Kenapa kamu tahu tanggal ulang tahunku?” tanya laki-laki itu. Dengan lagaknya seperti pemain film gadis itu berkata “Harusnya kamu sudah dipecat dari FBI karena sudah kehilangan identitasmu” sambil memberikan kartu identitasnya. Laki-laki itu membalas dengan tetap memegang tangan si gadis “Jangan beritahukan siapa-siapa tentang hal ini ya?”. Gadis itu bingung, “Hal apa?”. Laki-laki itu berkata dengan dalam dan rendah “Bahwa sebenarnya aku suka kamu”.

-END-

-----------------------------------------------------

 Belum Ada Nama Tokoh
Berdasarkan Ide dan Konsep Film Pendek yang dipaksakan menjadi Cerita
Enjoy Guys!

By : Ricky Raharjo

Selasa, 12 Februari 2013

AIESEC Invasion!

Hari Imlek yang lalu ditandai oleh kejadian besar di Semarang. Banyak bule atau relawan luar negeri berkeliaran sebelum hari tahun baru China ini. Saya waktu itu melihatnya ketika CFD, tidak hanya 1 negara atau 2 negara tapi banyak. Hal itu pun terjadi di Semawis, salah satu tempat Pecinan yang terkenal di Semarang dibanjiri banyak orang-orang luar negeri. Mereka merupakan orang-orang dari sebuah komunitas AIESEC.

Sebelum ke Semawis, saya sudah lihat dulu ada pengumuman di salah satu twitnya AIESEC bahwa akan ada acara di situ. Evi, teman saya dari SMA pun memberi saya kabar nanti ada penampilan seni tari dari bule yang menginap di rumahnya. Saya pun bergegas ketika mendengar kabar itu bersama rekan saya Yopi dan Dadink.

Setelah sampai di Semawis, banyak sekali populasi yang datang di situ. Saking banyaknya, mereka mencoba menghalangi kita untuk sampai ke tujuan kita, yaitu bertemu dengan bule-bule AIESEC. Kita bolak-balik belum menemukan stand mereka, namun kami sudah menemukan bule-bule yang berkeliaran di sekitar area tersebut.

Akhirnya kita menemukan stand mereka yang tidak jauh dari papan "Suara Hati" yang dibuat oleh Suara Merdeka. Di situ terlihat banyak yang menempelkan keinginan atau harapan dengan selembar kertas yang disediakan. Saya ingat waktu itu teman saya Septi, menempelkan sesuatu harapan dengan menggunakan kertas yang dia bawa sendiri, sehingga kertas itu agak besar dari yang lain. Di dalam kertas itu tertuliskan "Skripsi di ACC!". Agak lucu juga sih, saya hanya tepuk tangan dan sedikit nyengir atas keberaniannya.

Ketika sudah berada di stand AIESEC, kami hanya lewat dan melihatnya saja. Keadaan menjadi canggung atau awkward karena kita belum mencoba berkomunikasi dengan bule-bule di situ. Tapi naluri saya mempengaruhi saya untuk mencoba membuka komunikasi. Saya pun maju dan langsung mencoba berkenalan dengan wanita yang memakai baju biru khas China. Awalnya dia tidak open, atau masih tertutup, saya bilang "I want to meet you, what's your name?". Saya lupa namanya waktu itu, tapi dia malah bilang apakah kamu mau foto dalam bahasa inggris tentunya. Sempat berpikir jangan-jangan yang saya ajak bicara ini adalah orang Indonesia, dan saya ajak bicara pakai bahasa Inggris waktu itu!

Tapi ke-awkward-an itu agak menghilang ketika orang China yang lain menengahi pembicaraan. Dia kecil tapi lucu, namanya Jesi kalau tidak salah. Saya beri pertanyaan "Do you know Kai Wong from Digitalrev?". Dia ternyata tidak tahu, dia memang terkenalnya di Youtube sih (^^). Saya pun meminta kepada Jesi untuk berfoto bersama saya. Di situ sudah siap Yopi sebagai fotografernya, Dadink yang mengarahkan Jesi dan saya untuk bilang Nasi dalam hitungan ke satu. Tidak hanya sekali, diteruskan dengan pengarahan lagi untuk bilang Sego. Saya terangkan Jesi apa itu sego waktu itu.

Tidak lama dari situ, saya melihat Evi, akhirnya saya pun menemuinya. Tapi waktu itu dia sepertinya sibuk dengan bule-bulenya, makanya saya langsung kenalan orang-orang yang di dekatnya. Waktu itu saya langsung tanya nama, di stand saya kenal Tracie, dan di dekat Evi, ada 2 bule, namanya Kyoko dan Nadia. Waktu itu saya, Dadink, dan Yopi berkenalan. Ketika saya menjelaskan nama panjang saya, Kyoko mau mendengarkan saya dengan mendekatkan kuping ke mulut saya. Benar-benar sopan mereka itu, hingga ingin tahu nama saja sampai begitu. Beberapa menit kemudian, mereka pamitan karena sudah tutup dan si Kyoko sendiri sudah bilang "Tired", katanya si Dadink sih.

Awalnya saya takjub, kenapa banyak orang bule yang datang, jangan-jangan kita dijajah lagi ni! Ya akhir kata, mereka itu suka dengan negara kita yang murah senyumnya, keterbukaan orang-orang baru, makanan yang enak, lalu kenapa masih ada ya yang memuja negara lain padahal negeri ini itu sudah baik sekali, tinggal bagaimana cara mempertahankannya. Proud to be Indonesian! Sekian. (^^)

Jumat, 08 Februari 2013

Meet So Young!

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya saya menetapkan kebiasaan baru yaitu jalan-jalan setiap hari Minggu pada saat Car Free Day. Kenapa? Karena, dulu saya bertemu dengan seorang wanita yang sangat istimewa. Dia adalah wanita dari Jepang yang mengikuti kegiatan kerelawanan di Semarang ini. Salah satu anggota IIWC, namanya adalah Rina Sakakura. Dia yang membuat hari Minggu menjadi hari yang special untuk dinikmati, selain untuk merefresh pikiran, kemungkinan juga bisa bertemu dengan orang baru. Makanya saya beranggapan jika saya mengikuti Car Free Day di setiap hari Minggu, barangkali saya bisa bertemu dengan dia lagi.

Ketika saya bertemu dengan Rina, saya mengerti rasanya move on. Jatuh cinta lagi adalah salah satu cara paling ampuh saya untuk move on. Jika kita pernah dikecewakan namun masih mengharapkan, lebih baik segeralah bertemu dengan orang-orang baru, dan dapatkan sendiri sensasi itu. Salah satu sensasi yang saya dapat adalah, ketika saya bertemu dengan Rina, ketika itu pula saya sedang melupakan ulang tahun seorang mantan gebetan dulu yang membuat saya susah move on. Maksud saya, benar-benar lupa! Susah untuk mendeskripsikannya karena saking senangnya bisa move on!

Semenjak kejadian bulan September itu, sebenarnya saya masih mengharapkan balasan dari Rina Sakakura. Saat-saat itu dan sampai bulan Januari ini, bisa dibilang saya susah move on lagi. Saking merindukannya saya pasang fotonya di dekstop HP BB saya, agar selalu mengingat senyumannya itu. Saya suka senyumannya.

Hari di mana saya bisa move on tiba lagi. Car Free Day lalu, saya bertemu dengan wanita dari Korea. Jadi waktu itu mereka sedang menjualkan produk tanaman bakau berupa kue dan puding. Saya awalnya tanya yang orang Indonesia dulu, dengan memulai percakapan "Dari IIWC ya?". Lalu saya ngobrol sebentar, dilanjutkan perkenalan dengan wanita korea itu.


Yang berkacamata namanya So Young, dan satunya lagi namanya Ye Won. Saya ngobrol dengan topik yang keluar dari kepala saya saja. Saya menanyakan "Do you know Kim Nam Gil?". Oh ternyata malah mereka juga ngefans dengan aktor tersebut. Saya bilang saya suka dengan penampilannya, sampai-sampai saya merawat kumis saya agar terlihat seperti Kim Nam Gil (^^). Tak lama dari situ saya meminta untuk difotokan. Ternyata bukan saya saja yang meminta foto, So Young juga ingin difotokan dengan kameranya (^^). 

Kemudian saya bertukar e-mail dengan So Young agar nanti bisa di-tag di facebooknya. Setelah permintaan pertemanan So Young sudah saya kirim, Ye Won tiba-tiba ingin di-add juga. Ye Won agak susah dalam menekan keyboard di HP saya, kemudian saya bantu untuk menuliskannya. Terlalu lama menuliskannya, gerombolan IIWC sudah mulai jalan lagi untuk menjualkan produk tanaman bakau tersebut. Akhirnya seadanya saja saya mendapatkan e-mail Ye Won. Waktu di-add pun tidak bisa. Yah dalam hati sih nanti juga bisa saya kirimkan permintaan pertemanan melalui teman yang samanya si So Young.

Setelah hari itu, approve-approvean facebook terjadi. Kita chattingan langsung malam itu. Dia tanya kepada saya apakah tahu tentang Bali? Bukan dia yang mau ke Bali, tapi teman koreanya 1 lagi tapi lupa namanya siapa. Dia ternyata belum pulang ke Korea, masih melakukan voluntering di Semarang. Foto profilnya So Young saja belum dipasang, apakah orang-orang Bule baru membuat facebook setelah tahu Indonesia?

Selasa, 05 Februari 2013

Sistem by Aim

Banyak teman-teman saya yang sukses muda dan sudah mempunyai pekerjaan ataupun yang berwirausaha. Kali ini ada yang berbeda di luar dari kedua pencapaian tersebut. Bisa dibilang wirausaha, namun menurut saya sudah tidak ngetrend lagi di era sekarang. Saya bisa bilang begini karena saya sudah mengalaminya sendiri, dan yang saya dapatkan hanyalah manfaat sesaat saja dan tidak mereferensikan lagi ke teman saya. Tidak lain dan tidak bukan adalah bisnis MLM. Teman saya ini bernama Aim, dia ke luar dari UNDIP dan memfokuskan diri terhadap bisnis yang dijalaninya itu, terutama bisnis MLM yang terbaik di Indonesia yaitu DBS. Dan lihat, dia berhasil karena keyakinannya itu.

Minggu-minggu kemarin Aim mengajak saya gathering di KFC Pandanaran, sesuai dengan kesepakatan bersama melalui BBM. Saya pergi rencana mau dengan teman saya Kang Saef, karena tidak ada balasan, saya pun berangkat ke TKP sendirian.

Ketika sudah sampai KFC, saya langsung BBM Si Aim. Sudah ditunggu beberapa lama ternyata baru sadar BBM saya pending semua. Saya masuk pelan-pelan, melihat sekeliling situasi yang ada di lantai 1, saya mengingat-ingat mukanya Aim, karena sudah 3 tahun lamanya tidak bertemu, berharap bertatap muka segera.

Lantai 1 tidak ada, saya pun langsung menaiki tangga yang penuh dengan tagline-tagline KFC. Sesampainya di atas saya kembali melacak keberadaan Aim. Masih pangling juga dan agak putus asa mencarinya, saya duduk di situ sambil bermain HP BB saya. Akhirnya BBM saya terkirimkan ke Aim. Saya masih duduk di situ, karena di atas itu hanya terdapat kumpulan-kumpulan orang atau komunitas. Setelah beberapa detik, penantian pun berakhir, munculah sesosok orang gagah dengan potongan agak kemiliteran menghampiri saya dan menyambut saya dengan penuh aura kesuksesan, dialah Aim. Dia tidak sendirian, dia membawa teman SMA nya yang berasal dari Pati juga, namanya Enggar.

Kita di situ saling sharing, apa saja yang kita lakukan akhir-akhir ini, juga tentang passion. Bahkan saya cerita tentang PENCINTA WANITA pun Si Enggar tahu. Saya pun jadi tertarik mendengar antusiasnya, sampai-sampai dia mempunyai video-videonya juga. Sangat disayangkan ketika dia bilang bahwa kalau kita nanti kaya, perempuan apa saja bisa kita dapatkan. Saya tidak menyalahkan pendapat itu, namun saya hanya menambahkan "Oh.. iya karena perempuan itu butuh rasa aman", tapi ada yang lebih penting dari kekayaan atau uang atau jabatan, yaitu CINTA. Nyatanya master saya, Mas Reisal sudah mempunyai Mobil berkat usahanya namun ternyata itu tidak terlalu berpengaruh terhadap perubahan mental untuk menyayangi sesama, itu kembali kepada karakter Pria itu sendiri. Harta hanya sebagai nilai tambah value kita bahwa kita adalah Pria yang bertanggung jawab. Uang memang penting tapi bukan segalanya.

Hal yang saya prediksi ternyata terjadi juga. Di situ saya diprospek oleh Enggar, salah satu trainee-nya Aim. Saya mempersilakan saja untuk latihan presentasi produk DBS di hadapan saya. Dia masih terpaku dengan modul presentasi yang pernah saya lihat sekitar 3 tahun yang lalu. Samanya ya sistem mendapatkan keuntungannya, bonusnya, terus jabatannya. Setelah dibalik ke halaman berikutnya ternyata ada tambahan lagi produk DBS itu. Yang saya ingat ada 3 tambahan produk yang berharga Rp 250.000,- yaitu produk Habbazaitun (Obat yang dikeluarkan atau dipromosikan oleh AA Gym, yang konon bisa menyembuhkan semua penyakit kecuali maut, Insya Allah), kedua adalah layanan kartu telpon XL, menelpon gratis sesama selama 1 bulan penuh, dan terakhir Investasi BNI Syariah. Bagus-bagus sih, semua bisa didapat dengan harga segitu, sayangnya saya tetap teguh dengan pendirian saya sudah tidak percaya lagi dengan bisnis MLM, karena memang bukan passion saya. Misalnya saja ketika saya nantinya mendapat downline saya, saya pasti agak merasa risih.

Waktu Aim belajar bersama saya dan satu kelas dengan saya yaitu pelajaran bahasa Inggris, dia orangnya menurut saya tidak terlalu pintar dan seperti tidak ada harapan untuk sukses. Tapi kenyataanya berbeda, saya bisa melihat sendiri, dia sekarang bisa mempunyai banyak aset, dan invesasinya sudah dimana-mana. Itu hanya 1 kuncinya, dia bilang kepada saya waktu gathering dengannya yaitu, "Action Bro!". Terlalu banyak pikiran nantinya malah tidak melakukan apa-apa, dan hanya terdiam tidak berkembang. Selain itu Aim memberikan saya ilmu lagi yaitu bahwa semua orang yang berhasil itu pastinya memiliki sistem keuangan yang baik. Dari situ saya menggumam dalam pikiran "Benar juga ya Sistem Manajemen Keuangan".

Maksudnya adalah kita biasa diberi masukan-masukan tentang orang-orang inspirasi terkenal karena karakter dan kegigihannya tapi sebenarnya dibalik itu ada sesuatu yang agak realistis. Misalnya Top Ittipat, beliau bisa membuat Tao Kae Noi karena usaha kerasnya dalam mendapatkan modal yang cukup, semuanya sudah ter-planning, walau hutang tapi hutang itu hutang baik, bukan hutang jahat. Kalau hutang baik itu, kita bisa mendapatkan pendapatan dari situ, namun kalau hutang jahat adalah hanya menutupi hutang yang dulu, atau bahkan kita gunakan untuk hutang yang lainnya. Mulai dari sekarang pun saya juga ingin memiliki Sistem Keuangan saya sendiri yang sesuai dengan saya, tapi karena tidak ada mentor agak susah untuk memanagenya.

Setelah berbincang agak lama, saya diajak berkenalan dengan teman-teman yang lebih muda dari saya. Mereka adalah siswa-siswa kelas 12 dari SMA 9, kalau tidak salah. Di situ saya mengakrabkan diri dengan menanyakan hobi, passion, dan tujuan hidup. Setelah agak lama mengobrol, kita berhenti untuk membahas tentang bisnis apa ya yang sekiranya akan meledak di tahun 2014 nanti.

Saya jadi ingat stand up comedy yang dibawakan teman saya Tubagus tentang bisnis mengemis. Bisnis Ngemis tapi bukan sembarang bisnis ngemis, bisnis yang bisa kita franchise-kan, dan akan mendapatkan bonus jika sudah golongan emerald (jabatan di DBS).

Awalnya kita hanya diberi paket produk berupa gelas kosong dengan logo seperti Tong Ji, Teh Poci, Coca Cola, Milo, atau pun KFC. Sejalan dengan berkembangnya dan lihainya ngemis kita, kita nanti akan naik golongan dari silver, gold, dan paling tinggi adalah emerald. Tentunya ada keuntungan juga join di Bisnis Ngemis kita ini, kita akan diberikan pelatihan pengembangan diri, theater, dan musik ala kadarnya, jadi dengan begitu posisi emerald tidaklah hanya mimpi belaka, dan pasti mudah untuk diraih.

Dalam menjalankan bisnisnya kita sudah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar seperti CL, 21, Hotel Horison, Mcd, Tong Ji, apalagi KFC. Kita akan menempatkan posisi strategis kita misalnya di 21, posisi yang paling cocok ketika orang-orang sedang menikmati tontonan bioskopnya, karena ada 2 hal yang mereka dapatkan yaitu bersedekah secara langsung di tempat, dan misalnya pengemisnya sudah emerald, dia sudah memiliki produk yang lebih hebat dari yang silver, yaitu semir sepatu, jadi pelanggan akan mendapatkan layanan semir sepatu.

Hahaha coba kalau itu ada beneran yah, benar-benar asyik berteman dengan anak-anak SMA itu. Saya jadi jadi tidak enak dengan teman saya Aim, kesannya malah seperti menjelek-jelekkan ketika sudah berpangkat emerald itu, maaf ya tidaj maksud hati kok. Sampai bertemu lagi dengan saya, Ricky Raharjo dengan FR yang bermanfaat sekiranya untuk anda.(^^)

Senin, 14 Januari 2013

Kegiatan Baru - Baru Ini

Tidak afdol ya jika saya terus bercerita namun tidak tahu sebenarnya siapa saya dan apa yang saya lakukan baru - baru ini. Saya adalah lulusan D3 yang sudah lulus tahun 2011 lalu. Saya belum memiliki pekerjaan tetap dan saya masih suka berinteraksi dengan teman-teman sekitar. Agak susah mencari teman jika kita tidak dalam suatu lingkup lingkungan atau komunitas. Yah tapi saya bersyukur saja, saya masih bisa bertemu dengan orang-orang baru apapun kondisi saya.

Di laman Kenali Raharjo saya menyukai foto-foto. Tidak sembarang foto-foto, saya foto-foto untuk dipamerkan nantinya, pameran yang diadakan oleh PROLOG. Itu adalah komunitas pencinta analog yang saya ikuti di Semarang. Pamerannya pun sudah pernah dimuat di media koran lokal.


Saya mempunyai kamera analog Fisheye No.2. Itu adalah salah satu produk Lomography yang saya beli ketika saya mendapat uang beasiswa dari UNDIP. Pastinya senang karena ini adalah kamera pertama saya yang saya beli dengan uang saya sendiri. Awal saya mencoba ternyata sulit sekali memakai kamera analog itu. Saya mendapat hasil foto yang jelek atau kebanyakan hitam saja dari 1 roll film pertama. Dari situ saya belajar apa itu shutter speed dan apa itu ASA/ISO. Saya pun bisa juga menerapkan ilmu itu ke kamera digital.

Pada awal Januari ini komunitas PROLOG akan memulai pameran dengan tema "Something New". Dhipo (Ketua Prolog) yang mencetuskan tema itu demi menyambut tahun yang baru 2013. Saya pun memberi ide ke PROLOG yaitu agar pameran besok tidak repot-repot lagi, maka saya membuatkan frame kertas. Jadi supaya pameran jalanan atau street exhibition berjalan dengan lancar, dan terkesan lebih niat dari pameran-pameran sebelumnya. Saya mengerjakan 22 frame kertas sendirian, karena teman-teman belum saya presentasikan bagaimana cara membuatnya. Hanya saya beri clue tentang bahan-bahan seperti kertas duplex dan kertas mika.


Submit hasil foto paling lambat adalah tanggal 19 Januari besok. Jadi masih sekitar 5 hari lagi dari sekarang, kamera saya pun juga sudah mencapai Roll yang ke 25. Selain saya hunting saya juga mengetes intensitas cahaya sesuai dengan shutter speed yang saya tetapkan. Nantinya saya akan melakukan review tentang kamera Fisheye No.2.

Kebetulan kemarin Aska teman saya mengajak jalan-jalan. Aska adalah teman dekat saya sewaktu kuliah yang suka memberi pertolongan di saat saya tidak bisa mengerjakan tugas. Saya pun yang menentukan lokasi untuk jalan-jalan dan foto-foto. Kami pun pergi ke Gramedia Toko Buku yang berada di Jl.Pandanaran Semarang itu. Namun bukan di situ tujuan kami. Kami hanya memarkirkan kendaraan di situ.

Setelah itu kami pergi ke Halte Bus Trans Semarang atau bisa disebut juga BRT. Setelah sekian lama menunggu akhirnya datang juga. Kami tidak mendapatkan tempat duduk karena semua tempat duduk sudah terisi. Saya tidak stabil jika berdiri makanya saat itu saya duduk jongkok, sementara Aska berdiri memegang jendela kaca, karena kami tidak mempercayai pegangan yang sudah ada di bus itu.

Setelah agak sepi akhirnya dapat tempat duduk juga. Saya ingin memfoto keadaan sekitar namun malu dilihat orang, makanya saya tunggu semuanya sepi dulu. Busnya melaju dengan kencang sekali, hingga saya tidak fokus dalam mengambil gambar karena terlalu banyaknya guncangan.

Kami sengaja tidak turun hingga bus ini sampai di terminal. Akhirnya sudah dekat dengan tujuan kami yaitu Taman Margasatwa Semarang yang terletak di Mangkang, dekat dengan perbatasan Kendal. Setelah sampai di situ, kami tidak melihat pengunjung berlalu lalang. Hanya angin berhembus melewati baju kemeja putih saya. Awal kunjungan, kami masuk ke area binatang ular. Sebenarnya sudah pernah ke sini namun waktu itu tidak ada pawangnya. Pawang ular menunjukkan ular-ular yang berada di kawasan itu, ada yang nangkring di pohon, ada juga yang di gua kecil. Saya merinding, takjub, sekaligus takut melihat mereka tepat di atas kepala saya. Pawang ular pun menjelaskan bahwa itu berbisa. Kami tidak tahu menahu tentang itu semua, apalagi tentang ular yang dibiarkan begitu saja, soalnya dulu pernah ke area ular ini, untung tidak dimakan oleh ularnya. (^^)

Yak seperti biasa kita berfoto-foto di situ. Aska pernah mengajak temannya untuk berfoto ria namun hasil fotonya tidak sesuai selera. Saya dan Aska menyukai fotografi jadi ketika jalan bareng tidak masalah difotokan atau memfotokan. Tapi kalau saya sih silakan foto sesuka hati anda, nanti juga saya edit lagi. (^^)

Selain kegiatan tersebut, saya masih aktif dalam membuat dan mengembangkan blog. Tidak hanya On The Way Raharjo, saya juga menulis review tentang film-film maling di blog saya ini : Heist Movie Review.

Yak cukup itu dulu, semoga hari mu menyenangkan! (^^)

Jumat, 11 Januari 2013

Lilin by Kang Saef

Seperti biasa jika kita berurusan dengan cinta dan ada masalah yang terjadi, pasti kita akan galau. Hal itu terjadi pada sahabat saya Kang Saef. Dia dicampakkan dari ceweknya yang ada di luar kota. Saya tidak tahu persis namun pada saat itu Septi juga melihat kejadian itu.

Kegalauan Kang Saef tidak bisa dibendung lagi, dia tidak terkontrol, tapi untungnya tidak memakan korban jiwa. Dia hanya makan makanan yang disajikan oleh Septi ketika dia bertamu di rumahnya Septi. Di situ Kang Saef meminta saran kepada Septi, apa yang seharusnya dia lakukan. Septi hanya menjawab yang bisa menyelesaikan masalah itu hanya kamu seorang. Terlebih lagi Kang Saef baru kenal di Es Rumpi dulu, makanya dia tidak tahu harus menjawab bagaimana lagi, toh baru kenal juga.

Kang Saef sadar sikap seperti itu seharusnya tidak dilebih-lebihkan dan menjadi masalah pribadi sendiri. Saya mendengar cerita ini dari Kang Saef langsung, dan dia sebenarnya tidak enak dengan Septi, ingin sekali dia meminta maaf dengannya.

Dalam situasi galau seperti itu pun, Kang Saef masih bisa memberi saya filosofi baru lagi. Kondisi dia saat ini adalah kondisi dia seperti lilin. Lilin itu bisa menyinari ruang-ruang yang gelap, menjadi cahaya bagi sekitarnya, namun dia tidak sadar kalau dirinya sedikit demi sedikit menuju dalam kegelapan atau mati. Biasanya memang Kang Saef bisa memberi masukan-masukan kepada orang lain dengan analogi yang menarik, tapi ironisnya dia sendiri malah tidak memperhatikan dirinya sendiri atau dalam kata lain tidak bisa memotivasi dirinya sendiri.

Sebenarnya tidak hanya Septi yang kecewa, saya pun juga ikut kecewa. Padahal sudah berulang kali saya kasih masukkan ke Kang Saef, ilmu yang paling mudah tapi sulit untuk dipraktekkan adalah mendengar. Kita boleh memberi masukkan namun kita harus melihat siapa yang diajak bicara dulu agar tidak terjadi komunikasi satu arah. Jika sang pendengar mau mendengarkan keluhanmu ya berarti anda dipersilakan untuk curhat. Kang Saef adalah sahabat saya yang paling baik, semoga dia tumbuh dewasa dengan baik, dan tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.

Menurut saya ketika kita sedang dalam galau apapun itu, kita harus
1. tenang dulu,
2. pilih orang yang benar-benar cocok untuk curhat, karena tidak semua orang itu ingin mendengar cerita anda, kadang mereka hanya ingin tahu saja,
3. pilih waktu yang tepat untuk curhat, curhat ketika dalam emosi itu tidak akan menyelesaikan masalah bagi penderitanya karena biasanya tidak akan mempan diberi masukkan, siapapun pasti begitu,
4. diam dan introspeksi diri jika tidak ada teman yang dipercaya,
5. jangan buka facebook, apalagi facebook mantan, dan jangan pula mencoba untuk update status, apabila terpaksa updatelah selain di facebook atau twitter, lebih baik lagi punya blog, bisa membuat cerita seperti saya. (^^)

Kamis, 10 Januari 2013

ASAM KEHIDUPAN

Selamat malam para follower saya, senang sekali dapat berjumpa lagi dengan saya Ricky Raharjo. Malam ini saya akan share cerita yang saya buat ketika masih duduk di bangku kuliah saya. Waktu itu saya kebagian mendapat tugas presentasi, yaitu membuat cerita dengan paragraf rata kanan dan rata kiri. Silakan menikmati. (^^)


ASAM KEHIDUPAN

Dahulu kala, saat aku masih di bangku TK dan setinggi motor bebek. Pada waktu itu rambutku masih lurus dengan style ponian ala changcuters. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa rambutku bisa jadi ikal, mungkin kebanyakan mikir kok aku jomblo terus, kali ya. Jomblo bukan berarti tidak bahagia dengan pacar, lihatlah di sekelilingmu masih ada banyak orang yang masih sayang kepadamu. Dan orang itu yang dapat membuat hari-harimu menjadi lebih berwarna dan melupakan pahitnya kehidupan dan menjadikan manisnya kehidupan. Ketika aku masih anak-anak aku mempunyai seseorang yang dapat membuat hari-hariku lebih berarti, dan orang itu adalah kakekku.

Kakekku adalah seorang yang pernah merasakan pahitnya hidup di saat Indonesia sedang terjajah. Bagiku beliau adalah seorang pahlawan yang siap membela tanah air. Itu terbukti saat aku akan berangkat sekolah kakekku selalu sudah siap di luar rumah untuk mengantarkan aku sekolah, beliau selalu menghormati aku layaknya seperti hormat pada waktu bendera merah putih dikibarkan. Apa boleh buat aku juga balas dengan hormat agar kakekku menurunkan tangannya, kalau tidak kakekku tidak akan berhenti menghormati aku. Aku diperlakukan seperti bos kecil oleh kakekku, seperti saat aku naik sepeda roda tiga didorong dari belakang olehnya, menunggu aku sekolah hingga pulang sekolah, tapi semua itu dilakukan kakekku dengan penuh rasa senang tanpa rasa lelah sedikit pun.

Saat aku kecil aku pernah dikucilkan oleh teman-teman TK ku. Selalu diolok-olok, dijahilin, dijewer oleh ibu guru karena aku hampir memukul temanku yang nakal itu. Dari situ aku sudah tidak niat sekolah lagi, aku bermain sendirian di taman bermain supaya hilang rasa penatku. Ada ayunan, aku ayunkan sendiri lalu kududuki sendiri, terus aku main jungkat-jungkit dengan cara meringankan dan memberatkan badanku sendiri, semua permainan aku mainkan sendiri. Beberapa menit kemudian aku dihampiri oleh kakekku. Saat itu aku ditanya apa cita-citaku, aku menjawab dengan muka cemberut kalau aku akan menjadi Baja Hitam. Aku menjawab seperti itu karena Baja Hitam kan tidak sekolah dan tugasnya cuma berubah terus nyelametin orang. Kakekku mendengar jawabanku dengan senyuman, dan berkata kau pasti bisa seperti Baja Hitam kalau kau tidak menyerah untuk sekolah.


Kemudian kakekku mengajak pergi dari TK ku yang memuakkan itu ke sebuah kampus sekolah dasar. Di situ banyak anak-anak SD yang masih jajan.di luar sekolah. Disitu pula kakekku mengajari suatu kesenian musik. Dengan cara tangan kanan dimasukkan ke dalam ketiak sebelah kiri, lalu digerakkanlah lengan kiri kakek sehingga menimbulkan suara yang khas dari ketiak kakek. Lalu aku mencoba memainkan musik khas itu, dan ternyata suara yang aku hasilkan kurang merdu dibanding suara yang dihasilkan kakekku. Kemudian aku mendengar suara khas seperti itu juga tapi bukan suara khas dari kakekku. Ternyata anak-anak SD yang lagi jajan di luar sekolah tadi ikut mencobanya untuk menyaingi suara khas kakekku. Saat itulah aku melihat kejadian yang jarang sekali terjadi dalam hidupku, yaitu aku melihat parade suara ketiak yang dipandu oleh kakekku.

Setelah parade selesai, ternyata kakek tidak hanya mengajarkan aku 1 kesenian musik saja. Pelajaran yang kedua yaitu tangan kanan dan kiri di genggam seperti posisi saat main voli, lalu ditiup hingga menyerupai suara burung perkutut. Lalu aku mencoba apa yang kakek lakukan, tapi kok tidak mengeluarkan suara, yang ada malah mengeluarkan percikan keringat berbau ketiak yang tidak berdeodorant. Aku mencium bau itu dan kepalaku agak lemas dan pusing, tapi untungnya belum pingsan. Kakekku menghentikan musiknya karena melihat keadaanku yang lemah. Kemudian kakekku mengusap-usap tangan dan menempelkan kedua tangannya ke dahiku. Kata kakekku sih bisa mengobati dengan aura positif yang timbul dari gesekkan kedua tangannya.

Walaupun tangan kakek bau, aku tetap senang diobati dengan cara begitu. Dan beliau berkata bahwa kamu harus menerima pahit, manis, dan asam kehidupan agar kamu mampu menghadapi kehidupan dengan ikhlas. Aku bertanya kenapa ada asam kehidupan juga. Kakekku menjawab dengan menunjukkan ketiaknya dan berkata inilah asam kehidupan itu nak.

Hingga akhir waktu, kakekku sudah banyak mengajari aku tentang arti kehidupan. Yaitu akan dikenang sebagai apa kita di akhir hayat nanti. Beliau adalah pribadi yang mengajarkan aku seberapa pentingnya menghargai dan menyayangi orang lain dengan rasa tulus ikhlas, tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Mungkin kedamaian di dunialah yang diinginkan kakekku.

Aku bersyukur sekali pernah mempunyai kakek yang berarti dalam hidupku, dan sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kakek. Aku hanya bisa berdoa semoga kakek diterima di sisi-Nya.


Ricky Raharjo
C0C008137


Source dari blog yang lama :
http://rikitujojo.blogspot.com/2009/06/asam-kehidupan.html

Rabu, 09 Januari 2013

Koin

Akhir-akhir ini banyak kejadian yang menyenangkan namun tidak sedikit juga mengerikan. Hari itu saya di-approve sebagai teman, dia adalah orang Jepang namanya Kaori Nagumo. Dia teman relawannya Rina Sakakura. Saya pun senang sekali, akhirnya setelah sekian lama saya add, sekarang kita bisa chatting juga di facebook, yah walau belum diapprove Rina tapi saya tetap bersyukur. Saking senangnya kita chat hingga malam. Dia agak lupa namun ketika dia bilang "Do you like AKB48?", saya balas saja dengan jangan-jangan kamu dengar pembicaraanku dengan Rina ya. Ya sepertinya dia agak ingat, ketika dia lihat profil saya dan mencoba menebak siapakah saya.

Itu adalah salah satu hal yang menyenangkan. Hal yang mengerikan salah satunya adalah saya bermimpi sesuatu yang bagi saya sangat mengerikan. Menurut saya, mimpi ini menyangkut masa lalu dan rutinitas saya yaitu Car Free Day. Mimpi ini saya dapat setelah berchatting dengan Kaori Nagumo.

Awal dari sebuah mimpi pastinya saya tidak ingat. Tiba-tiba saja, saya berjalan di tempat yang sempit, suasananya mendung, kanan kiri seperti ada batu yang agak menghimpit jalan. Tidak lama kemudian, sesuatu yang bikin deg-degan muncul. Bukan setan, bukan benda tajam, bukan bencana alam, namun sesuatu yang bagiku ini sangat berarti.

Dari kejauhan saya melihat Rina Sakakura sedang menaiki sepeda dengan teman-temannya. Tidak jelas teman-temannya siapa, namun mereka bersepeda dengan riang gembira. Tak lama kemudian hilang sudah pemandangan itu. Saya dibisiki seseorang atau siapa, saya diharuskan untuk mengisi koin ke kotak yang berada di dekat saya itu agar bisa melihat pemandangan itu lagi. Saya pun mencoba untuk memasukkan koin. Koin pertama tanpa alasan khusus saya tidak bisa memasukkannya. Koin kedua, ketiga, dan seterusnya tetap susah untuk dimasukkan. Hingga frustasinya saya mencoba lempar dengan kekuatan penuh agar masuk, tapi malah mental terus. Akhirnya saya memanggil orang yang ada di dekat situ untuk menolong saya. Tapi setelah dicoba malah senasib dengan saya, tidak bisa juga. Akhirnya orang itu meminta bantuan orang yang ada di dekatnya situ, dan tidak bisa. Terus sampai saya bangun dari mimpi itu. Mengerikan.

Dan setelah mimpi itu, saya dihadapkan masalah yang tidak biasa, dan saya memang harus menghadapi semua itu. Berpengaruh dalam kehidupan nyata juga. Saya pun hanya pasrah kepada Allah. Saya hanya melakukan yang terbaik dan semuanya diserahkan kepada Allah. Saya hanya pasrah kepada-Nya, tidak pasrah dengan kondisi saya karena saya akan melakukan yang saya lakukan demi menjadi pribadi yang mulia. Amin.

Minggu, 06 Januari 2013

Selamat Hali Tahun Baru by Noe

Hari dimana sebagian besar orang merayakan pergantian tahun dengan kembang api dan bakar-bakar. Sisanya sebagian kecil orang hanya merayakan di rumah dan menonton TV, jika anda suka film pasti akan menonton film Bioskop Trans TV. Kenyataannya kemarin ketika waktu sudah menunujukkan pukul 00.00 WIB di tempatku, saya hanya menonton TV dengan Ibu saya.

Kenapa tidak, saya tidak benar-benar mempersiapkan tahun baru seperti tahun-tahun berikutnya dengan teman saya. Waktu berjalan terus dan terus berputar seiring kesibukkan dan aktivitas-aktivitas baru yang mewajibkan mereka mendapatkan hidup yang lebih baik. Saya sebenarnya mempunyai alasan tersendiri kenapa saya tidak merayakan tahun baru ini. Pertama, saya tidak mempunyai cukup modal untuk merayakan tahun baru 2013. Kedua, saya tidak mempunyai quality time dengan wanita yang saya resolusikan di tahun 2012 karena tidak terwujud. Ketiga, biasa cuaca tidak terlalu mendukung untuk jalan-jalan, lagipula saya sudah sering keluar malam jadi sudah terbiasa untuk keluar malam seperti ini. Kesimpulannya adalah saya ingin berhemat, saya tidak ingin menghabiskan uang di awal hari tahun baru 2013.

Banyak aktivitas menunggu untuk dijalankan, saya pun sudah menetapkan target-target 2013, dan semoga semuanya berjalan dengan lancar. Resolusi wanita biarlah nanti mengalir saja, Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk saya, amin. Pada tanggal 1 Januari 2013, tidak terlalu banyak yang saya selamatin seperti tahun sebelumnya, saya hanya mengucapkan kepada sebagian kecil orang, seperti orang-orang yang paling dekat dengan saya saja.

Salah satunya adalah Noe, dia wanita Jepang yang pernah ke Indonesia menjadi relawan di Tegal Rejo. Saya reply salah satu tweet noe yang berbahasa jepang itu dengan bahasa Inggris. Takjub, karena dia membalasnya dengan bahasa Indonesia, walaupun agak celat sedikit. Walaupun begitu saya kagum berarti dia masih ingat saya adalah orang Indonesia. (^^)


Minggu, 16 Desember 2012

Gila by Mas Diko

Untuk membuat pertemuan yang megah itu memang butuh persiapan yang matang. Saya menganggap pertemuan dengan orang yang sukses di bidangnya adalah sesuatu yang sangat istimewa bagi saya, namun keistimewaan tersebut ingin saya bagikan dengan cara mengajak teman-teman yang sudah menjadi teman sepermainan saya, sebut saja Kang Saef, Putri, dan Septi. Kang Saef karena dia adalah teman yang paling dekat dengan saya maka jika mau apa-apa dia siap untuk jalan bareng atau main bareng, makanya ketika mau diajak dia langsung ok aja. Putri seperti biasa ada perasaan yang gampang-gampang susah mengajak dia.

Tidak aneh kalau yang namanya wanita selalu memutar pembicaraan, dan kadang kita sebagai pria jika tidak sabar menghadapinya maka kita akan dianggap lemah dihadapan wanita. Saya sebenarnya ragu namun karena saya berlaku sebagai pria sejati saya pun ok-ok saja menanggapi menjemput langsung di rumahnya Putri, namun ketika Kang Saef datang, dia sms ketemuan saja. Setelah sampai tempat yang dimaksud untuk bertemu, Putri beralih lagi pemikirannya jemput ke rumahnya langsung saja, dan akhirnya kita berangkat. Septi, dia memiliki janji sendiri dengan teman kuliahnya dan kosnya untuk menghadiri Pandanaran Art Festival 2012 yang diadakan di jalan Pemuda Semarang, di mana itu dekat dengan pertemuan yang akan kita adakan, yaitu di Paragon.

Sesampainya di kafe Robuchon Paragon, saya langsung mengenalkan teman SD saya yaitu Putri kepada teman-teman saya. Saya kira sudah terlambat mengikuti seminar kecil-kecilan itu, ternyata Mas Diko nya juga baru sampai dan sedang asyik melahap makanan yang dipesannya. Pada acara itu ada Pras, Aldi, Chris, Mada, Denis, Tia, dan teman baru bernama Riza, tidak lupa dengan bintang tamu kita Mas Diko, sang pengusaha sukses di bidang IT dengan sebutan Dokter Laptop nya.

Kita dibuat melongo lagi seperti pertemuan kemarin karena obrolan yang berisi tentang kehidupan, mindset, wirausaha, dan sebagainya. Riza yang baru tahu pun sampai meneteskan air liurnya dari kejauhan saya lihat, saya berpikir apakah dia benar-benar menangkap apa yang sedang dibicarakannya ya. Hampir sekitar 2 jam kita mendengar ceramah dari Mas Diko, tapi beliau tidak segan-segan memberikan ilmunya. Kita jadi banyak tahu tentang wirausaha itu seperti apa, dan salah satunya adalah mengetahui apa mindset cita-cita kita. Kadang Mas Diko juga suka dengan quote-quote dari Mario Teguh dan Dedi Corbuzer. Kemarin yang saya ingat itu adalah soal cita-cita. Jadi dulu di salah satu acara Hitam Putih, Dedi Corbuzer pernah mengatakan "Yang berbahaya bukan memiliki cita-cita tapi tidak tercapai, melainkan tidak memiliki cita-cita tapi tercapai".

Mas Diko pernah bertanya ke murid-murid didiknya apa cita-cita kalian, walaupun ada yang jawabannya nyeleneh atau ketinggian seperti Presiden malah dihargai Mas Diko, berbeda dengan tidak tahu mau jadi apa, karena hidup seperti tidak ada arah tujuannya dan belum benar-benar hidup menurutnya. Kita pun sempat tersindir dengan itu apalagi kita masih mengandalkan orang tua untuk kebutuhan lain-lainnya. Makanya saya berseru kepada teman twitter dan BB bahwa saya ingin menjadi Direktur paling bahagia dan hidup mewah. Ada yang reply tweet saya yaitu sahabat baik saya Yopi Ardiyono, sutradara dari komunitas film Canopus dengan tweet "Yes...You can !". Dengan begitu kita bisa tahu dan bisa lebih percaya diri untuk meniti masa depan, Mas Diko bilang pengusaha besar pasti melakukan banyak hal yang gila.

Setelah itu dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai, tukar pin, dan nomor hp. Seperti yang dikatakan Mas Diko, pengusaha itu sebaiknya mengakrabkan orang yang baru dikenal daripada hanya teman lewat atau penonton saja. Di situ akhrinya Putri sudah bisa membaur dengan social circle saya, saling mengenal satu sama lain. Berbicara tentang pria dan wanita itu seperti apa dengan teman-teman yang memang dulunya suka membaca artikel percintaannya dari Ronald Frank, memang sebagian besar teman saya itu adalah Semarang Lair. Putri pun tidak asing dengan Tia, ternyata Tia adalah teman 1 kampus Fakultas Sastra UNDIP juga. Saking Putri dekat dengan mereka, Putri bilang ke saya, bahwa dia mempunyai free pass 1 jam di Inul Vista, sebenarnya Putri ingin mengajak tapi melihat-lihat keadaan teman-teman dan waktu juga sih, karena saya juga sudah berjanji oleh Ibunya, untuk mengembalikan Putri ke rumah tidak telalu malam.

Waktu sudah malam kita pun mencari makan di luar Paragon, karena tahu sendiri di dalam mall itu mahal-mahal dan berkelas. Akhirnya kita makan nasi kucing dan saling mengobrol di depan luat Paragon persis. Setelah lumayan kenyang kita pergi ke Pandanaran Art Festival. Ketika kita sedang asyik-asyik menikmati budaya-budaya yang ada di Semarang, kita dipanggil oleh salah satu gadis dari 1 tenda yang ada di situ. Awalnya saya pangling siapa dia. Oh ternyata Septi dengan kacamata birunya, benar-benar beda mukanya jika memakai kacamata biru itu. Dikenalilah dengan teman kosnya Septi, tidak lupa saya memperkenalkan Putri yang dulu pernah juga bertemu namun belum sempat kenal. Saya pun melihat jam tangan, namun saya lupa jam saya mati, saya lihat saja hp di kantong kanan saya, wah ternyata HP China yang saya lihat dan jam nya tidak tepat, akhirnya saya ambil saja HP BB saya yang berada di kantong kiri saya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih 10 menit, kita pun langsung pamit ke Septi dan teman kosnya untuk mempercepat jalan-jalan di Pameran tersebut.


Ketika mau pulang kita bertemu dengan teman SD saya dengan Putri bernama Awan. Sekarang dia hampir sama tingginya dengan saya. Mungkin dia juga memakai trik saya dulu agar cepat tinggi. Dulu itu saya saking suka dan terobsesinya dengan anime Detektif Conan, saya berpikir saya ingin pendek, hingga saya memendek-mendekkan diri saya ke tembok dalam kamar yang sempit itu. Dengan keadaan yang lapar dan pusing, Putri saya antar pulang ke rumahnya. Perjalanan pulang melewati jembatan yang penuh dengan PSK, tempat-tempat angker, dan jalan yang sedang diperbaiki, akhirnya kita pun pulang dengan membawa banyak pengalaman hari ini. (^^)